Suhu Terasa di Jakarta Diprediksi Hingga 43 Derajat Sepekan ke Depan
Cuaca panas menyengat di Jakarta diprediksi masih akan berlanjut dalam periode sepekan ke depan. Meski suhu aktual yang tercatat diperkirakan berkisar di angka 33-34 derajat Celsius, tubuh dapat merasakan panas yang lebih menyengat dari itu.
Berdasarkan data AccuWeather, suhu terasa atau real feel di Jakarta diperkirakan bisa mencapai 43 derajat Celsius sepekan ke depan.
Pada Rabu (13/5), AccuWeather memproyeksi suhu di Jakarta sebesar 34 derajat Celsius. Namun, suhu terasa mencapai 42 derajat Celsius di bawah terik Matahari langsung, dan 38 derajat Celsius meski berada di tempat teduh sekalipun. Sementara, indeks UV berada di angka 8 atau kategori sangat tinggi.
Kemudian, pada Kamis (14/5), suhu di Jakarta diprediksi sebesar 34 derajat Celsius, dengan suhu terasa mencapai 43 derajat Celsius.
Selanjutnya, pada Jumat (15/5) hingga Senin (18/5), AccuWeather memprakirakan suhu di Jakarta di angka 33 derajat. Namun, suhu terasanya mencapai 41 derajat Celsius.
Lalu, pada Selasa (19/5), AccuWeather memproyeksi suhu faktual berada di kisaran 32 derajat Celsius, dengan suhu terasa 40 derajat Celsius.
Status suhu real feel (terasa nyata) biasanya bakal memiliki angka suhu yang berbeda dengan status suhu udara pada umumnya di aplikasi cuaca.
Ahli meteorologi Cyrena Arnold menjelaskan, status suhu terasa itu intinya adalah soal bagaimana suhu terasa berbeda di kulit manusia.
"Kulit kita memiliki sensor dan terdiri dari air. Jadi, kulit kita sebenarnya bereaksi berbeda tergantung pada proses penguapan air tersebut," kata Cyrena, melansir Popular Science, dikutip Selasa (12/5).
Makin panas
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap potensi cuaca semakin panas dalam sepekan ke depan.
Menurut BMKG kondisi ini dipengaruhi oleh Monsun Australia yang diprediksi menguat dalam beberapa hari ke depan. Saat berada dalam kondisi menguat, angin tersebut membawa massa udara dari Australia yang cenderung lebih kering.
"Kondisi ini menjadi salah satu sinyal bahwa sejumlah wilayah Indonesia mulai berangsur memasuki masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau, sehingga menurunkan potensi pembentukan awan hujan dan kejadian hujan di wilayah tersebut," demikian keterangan BMKG dalam laman resminya.
Meskipun demikian, potensi penguatan ini diikuti dengan pelemahan, sehingga angin timuran akan melemah dan memungkinkan uap air di wilayah Indonesia bagian selatan meningkat kembali.
(dmi/dmi)