Kenapa Cuaca Terasa Lebih Panas dari Angka Suhu? Ini Penjelasannya

CNN Indonesia
Rabu, 13 Mei 2026 11:55 WIB
Ilustrasi. Cuaca panas di Jakarta membuat suhu terasa lebih tinggi, mencapai 41°C. Kelembapan, angin, dan sinar matahari memengaruhi persepsi suhu. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Cuaca panas 'memanggang' wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir. Meski suhu aktual yang tercatat berkisar di angka 33-34 derajat Celsius, tetapi banyak warga yang merasakan panas lebih menyengat.

Ternyata, kondisi ini disebabkan oleh suhu terasa atau feel like lebih tinggi dari suhu faktual. Misalnya pada Selasa (12/5), jika merujuk aplikasi pemantau suhu AccuWeather, suhu yang tercatat berada di angka 34 derajat Celsius, tapi suhu terasa mencapai hingga 41 derajat Celsius.

Menurut ahli meteorologi Cyrena Arnold, status suhu terasa itu intinya adalah soal bagaimana suhu terasa berbeda di kulit manusia.

"Kulit kita memiliki sensor dan terdiri dari air. Jadi, kulit kita sebenarnya bereaksi berbeda tergantung pada proses penguapan air tersebut," kata Cyrena, melansir Popular Science, Selasa (12/5).

Lantas, kenapa cuaca terasa lebih panas dari suhu aktual? Untuk mengetahui hal tersebut, pertama-tama kita perlu mengetahui bagaimana suhu diukur.

Melansir Al Jazeera, suhu faktual yang ditujukan oleh aplikasi cuaca maupun badan meteorologi bergantung pada jaringan stasiun cuaca yang tersebar di seluruh dunia.

Untuk mengambil data yang akurat, stasiun cuaca biasanya menggunakan termometer resistansi platinum khusus yang ditempatkan di dalam instrumen terlindungi atau yang dikenal sebagai layar Stevenson.

Namun, mengukur suhu udara saja tidak selalu mencerminkan seberapa panas atau dinginnya suhu tersebut yang sebenarnya dirasakan oleh tubuh. Inilah yang melatarbelakangi laporan cuaca sering menyertakan suhu feel like.

Pengukuran ini menyesuaikan suhu udara untuk menunjukkan bagaimana tubuh benar-benar merasakannya, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti kelembapan, kecepatan angin, dan sinar Matahari.

Kelembapan

Kelembapan udara berpengaruh pada peningkatan rasa suhu udara. Ketika suhu panas ditambah dengan kelembapan udara tinggi, udara sekitar sudah mengandung banyak uap air.

Hal ini memicu keringat tidak dapat menguap dengan cepat dan akhirnya membuat suhu terasa lebih panas.

Namun, saat udara panas ditambah kelembapan udara rendah, udara sekitar tidak mengandung banyak uap air, sehingga keringat dapat menguap dengan cepat dan membuat udara terasa lebih dingin.

Mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kelembapan yang tinggi, hal ini membuat suhu udara di Indonesia terasa lebih hangat, apalagi di saat musim kemarau.

Kecepatan angin

Kecepatan angin turut memengaruhi suhu yang terasa dalam dua cara berlawanan, tergantung apakah cuacanya dingin atau panas.

Ketika cuaca dingin, angin meningkatkan kehilangan panas dari tubuh dengan meniup lapisan tipis udara hangat di sekitar kulit. Semakin kencang angin, semakin dingin rasanya.

Saat cuaca panas, angin sepoi-sepoi dapat membantu menguapkan keringat, sehingga terasa lebih sejuk.

Sinar Matahari

Paparan sinar Matahari membuat suhu terasa lebih panas dari suhu udara di tempat teduh karena tubuh menyerap radiasi inframerah dari Matahari. Meskipun termometer menunjukkan suhu yang sama, sinar Matahari langsung menambah panas ekstra, itulah mengapa area yang teduh terasa lebih sejuk.

(dmi/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK