Komet Langka Melintasi Bumi, Baru Kembali 170 Ribu Tahun Lagi

CNN Indonesia
Rabu, 13 Mei 2026 14:30 WIB
Ilustrasi. Komet C/2025 R3 PanSTARRS melintas di langit selatan, memberi kesempatan langka untuk diamati. Dapat dilihat dengan teropong, bersinar biru-hijau. (Foto: Vincentiu Solomon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah komet yang terbentuk di ujung Tata Surya melintas di langit belahan Bumi selatan, memberi kesempatan langka bagi para pengamat untuk menyaksikannya sebelum menghilang selama sekitar 170.000 tahun.

Astronom di Te Whatu Stardome, Auckland, Selandia Baru, Josh Aoraki mengatakan komet bernama C/2025 R3 PanSTARRS ini sebelumnya melintasi belahan Bumi utara, namun kini telah berputar mengelilingi Matahari dan mulai terlihat dari selatan.

Komet ini cukup terang, tetapi tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Artinya, pengamat tetap membutuhkan teropong, teleskop, atau kamera untuk bisa melihatnya.

"Ini cukup mudah difoto, yang selalu menyenangkan," kata Aoraki, dikutip dari The Guardian, Rabu (13/5).

Pengamat di Selandia Baru, Australia, Afrika Selatan, dan kawasan Pasifik disarankan segera mengabadikannya karena kecerahan komet akan berangsur-angsur memudar dalam dua pekan ke depan.

Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah satu jam setelah Matahari terbenam, dengan pandangan diarahkan ke cakrawala barat yang terbuka tanpa halangan. Komet ini masih berada rendah di langit pada waktu tersebut.

Bagi yang berhasil menemukannya, komet ini tampak sebagai bola berwarna biru-hijau disertai ekor yang terlihat kabur.

"Kamu bisa melihat koma dan ekornya seperti meteor berbulu kecil di langit," ujar Aoraki.

C/2025 R3 PanSTARRS berasal dari Awan Oort, lapisan masif berisi objek es yang menyelimuti tepi paling jauh tata surya kita.

Komet ini ditemukan pada 2025 dan tergolong komet berperiode panjang yang membutuhkan waktu sekitar 170.000 tahun untuk menyelesaikan satu orbit mengelilingi Matahari.

"Sangat sulit memprediksi lintasannya, karena saat mengelilingi Matahari, komet kehilangan massa, dan itu bisa mengubah jalurnya," kata Aoraki.

"Jadi mungkin ia kembali dalam waktu tersebut, tapi juga bisa saja terlempar keluar dari tata surya sepenuhnya," imbuhnya.

(lom/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK