Terus Merugi, GoPro Terancam Bangkrut

CNN Indonesia
Rabu, 03 Jun 2026 14:30 WIB
GoPro menghadapi ancaman kebangkrutan akibat penurunan penjualan dan biaya produksi yang melonjak. (Foto: Dok. GoPro)
Jakarta, CNN Indonesia --

Raksasa action cam asal Amerika Serikat, GoPro, dilaporkan tengah di ambang kebangkrutan. Salah satu faktornya adalah penjualan yang terus merosot dalam beberapa tahun terakhir.

Hal tersebut diketahui dari dokumen terbaru yang diserahkan perusahaan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). Dokumen formulir 8-K yang dirilis pada 1 Juni menunjukkan keraguan besar terkait kemampuan perusahaan untuk mempertahankan operasi dalam 12 bulan ke depan tanpa suntikan dana baru atau transaksi strategis.

Berdasarkan dokumen SEC, dana tunai dan setara kas perusahaan kini dilaporkan menyusut hingga tersisa sekitar US$50 juta atau setara Rp897 miliar (dengan kurs Rp17.954 per dollar AS).

"Tanpa memperoleh sumber pendanaan tambahan atau menyelesaikan transaksi strategis, kemampuan perusahaan untuk melanjutkan kelangsungan usahanya akan terdampak secara material dan merugikan," tulis GoPro dalam dokumen SEC tersebut, melansir Digital Camera World, Rabu (3/6).

Manajemen juga menyatakan perusahaan kemungkinan terpaksa melakukan pengurangan operasional secara signifikan, restrukturisasi, penghentian operasi, hingga mencari perlindungan hukum di bawah undang-undang kepailitan federal.

Kendati begitu, GoPro menegaskan belum ada rencana spesifik yang diinisiasi untuk mengajukan kebangkrutan.

Berdasarkan dokumen internal yang dilansir Digital Camera World, krisis finansial GoPro diperparah oleh situasi industri teknologi global. Produsen kamera aksi ini harus menghadapi lonjakan biaya perangkat keras memori yang meroket antara 80 persen hingga 110 persen.

Kenaikan harga yang drastis ini dibarengi dengan penurunan pasokan komponen dari para supplier akibat imbas dari krisis data AI, ketika kapasitas produksi chip global dialihkan secara masif untuk memenuhi kebutuhan pusat data kecerdasan buatan.

Di sisi lain, dengan harga jual kamera aksi yang berada di kisaran US$300 hingga US$500, GoPro kesulitan membebankan kenaikan biaya produksi tersebut kepada konsumen. Masalah ini dipertegas oleh laporan internal perusahaan yang mengindikasikan adanya pelemahan penjualan yang berkepanjangan sepanjang bulan April dan Mei 2026.

Sebelum dokumen keuangan ini diterbitkan, GoPro sebenarnya telah melakukan sejumlah langkah efisiensi, termasuk memotong hampir seperempat dari total stafnya sejak April kemarin serta menjual beberapa aset perusahaan. Pendiri GoPro juga menyatakan dukungannya jika perusahaan harus menempuh opsi penjualan atau merger ke pihak lain demi menyelamatkan bisnis.

Melansir Digitec, tekanan berat yang dihadapi GoPro ini juga tidak lepas dari ketatnya persaingan dengan produsen asal China seperti DJI dan Insta360 yang kini telah menyalip GoPro di beberapa pasar utama.

Laporan data ritel dari Jepang, misalnya, memperlihatkan posisi GoPro yang semula sangat dominan kini merosot tajam hingga hanya menyisakan 19 persen pangsa pasar dalam beberapa tahun terakhir.

Selain faktor kompetitor, melemahnya bisnis inti GoPro dipicu oleh pertumbuhan permintaan kamera aksi klasik yang melambat karena pengguna kasual lebih memilih menggunakan smartphone. Siklus pembaruan perangkat (upgrade cycle) dari konsumen lama juga tercatat semakin panjang.

(dmi)


KOMENTAR

TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK