Masa Depan AI di Persimpangan, Kemajuan vs Ancaman Krisis Air
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif ternyata memiliki ongkos yang mahal. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan, pembangunan pusat data atau data center sebagai penopang AI global kini mulai menguras pasokan air bersih yang jadi kebutuhan dasar manusia sehari-hari.
Laporan United Nations University Institute for Water, Environment, and Health (UNU-INWEH) yang dirilis pada 3 Juni 2026, memproyeksi jejak lahan seluruh data center AI di dunia melampaui 14.500 kilometer persegi pada 2030. Angka itu setara dengan dua kali luas kawasan metropolitan Jakarta yang dihuni lebih dari 32 juta orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan PBB juga memproyeksikan, kebutuhan air untuk mendinginkan data center akan setara dengan kebutuhan air domestik dasar tahunan seluruh 1,3 miliar penduduk Sub-Sahara Afrika. Inilah ongkos lingkungan dari pembangunan data center yang tak banyak dibicarakan dan menurut para ilmuwan PBB, diukur secara keliru selama ini.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA) bertajuk Energy and AI, data center mengonsumsi sekitar 415 terawatt-hour (TWh) listrik pada 2024, atau sekitar 1,5 persen dari total konsumsi listrik dunia. Angka tersebut tumbuh dengan laju 12 persen per tahun sejak 2017, lebih dari empat kali laju pertumbuhan konsumsi listrik secara keseluruhan.
Kemudian, pada 2025 data center global telah mengonsumsi 448 TWh. Jika diperlakukan sebagai sebuah negara, data center menjadi konsumen listrik terbesar ke-11 di dunia, posisinya berada tepat di bawah Prancis dan melampaui Arab Saudi.
IEA lantas memproyeksikan konsumsi itu akan melampaui dua kali lipat pada 2030, mendekati angka 945 TWh, atau setara dengan total konsumsi listrik tahunan Jepang saat ini.
Di balik angka-angka itu terdapat mesin-mesin yang membutuhkan pendinginan konstan. Pasalnya, data center menggunakan 10 hingga 50 kali lebih banyak energi per meter persegi dibandingkan gedung perkantoran komersial biasa.
Sistem pendinginan adalah salah satu penyebab utamanya, dan pendinginan membutuhkan air dalam jumlah sangat besar.
IEA memperkirakan sebuah data center hyperscale berkapasitas 100 megawatt di Amerika Serikat mengonsumsi sekitar dua juta liter air per hari, setara dengan kebutuhan sekitar 6.500 rumah tangga. Lebih dari 60 persen konsumsi itu merupakan penggunaan air tidak langsung, yang terkait dengan proses pembangkitan listrik.
Secara global, total konsumsi air data center saat ini diperkirakan mencapai 560 miliar liter per tahun, dan diproyeksikan naik menjadi sekitar 1.200 miliar liter pada 2030.
Di Australia, skala tuntutan air ini sudah memaksa otoritas air bertanya-tanya. Sydney Water menerima permohonan sambungan dari satu data center tunggal yang meminta hingga 40 juta liter air per hari atau setara 16 kolam renang Olimpiade hanya untuk satu fasilitas.
Situasi serupa sudah menimbulkan konsekuensi di Asia Tenggara. Johor Bahru, Malaysia, menjadi contoh yang kerap disebut.
Pemerintah negara tersebut memberlakukan larangan sementara pembangunan data center AI karena harus berbagi pasokan air dengan kebutuhan domestik dan industri kelapa sawit setempat.
"Contohnya yang moratorium terjadi di Johor Bahru, jadi pemerintahnya melarang pembangunan AI data center karena mereka harus berbagi dengan penggunaan untuk domestik dan juga untuk industri kelapa sawit di sana," kata Hendra Suryakusuma, Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) di Jakarta, Rabu (20/5).
Kenapa AI butuh banyak air?
Jawabannya terletak pada fisika panas komputasi. Semakin padat dan bertenaga chip yang digunakan untuk melatih model AI, semakin besar panas yang dihasilkan, dan semakin intensif sistem pendinginan yang diperlukan.
Hendra menjelaskan bahwa untuk data center AI dengan kapasitas di atas 32 kilowatt per rak, pendinginan udara biasa sudah tidak memadai.
Industri kini bergantung pada liquid cooling atau pendinginan berbasis cairan yang terbagi dalam tiga kategori, yakni direct to chipset, yang mendinginkan langsung di level prosesor; rear-door heat exchanger, yang menggunakan sistem refrigerasi di belakang rak server; dan immersion cooling, di mana server direndam dalam cairan non-konduktif.
"Kalau kita bicara hyperscaler dengan 100 megawatt ke atas, ini butuh jutaan liter per bulan airnya," ujar Hendra.
Indonesia kini sedang bergerak cepat membangun ekosistem data center. Di pasar utama Jakarta, kapasitas co-location dan hyperscale yang sudah beroperasi mencapai 637,24 MW per kuartal pertama 2026, dengan pipeline yang direncanakan menyusul sekitar 1,65 gigawatt.
Menurut Jakarta Data Center Market Brief Q1 2026 dari IDPRO, kapasitas Jakarta nyaris menggandakan dirinya dalam dua tahun, yakni dari 288,99 MW pada 2024, melonjak ke 559,14 MW sepanjang 2025.
Add
as a preferred source on Google




