Masa Depan AI di Persimpangan, Kemajuan vs Ancaman Krisis Air
Data IDPRO menunjukkan bagaimana pertumbuhan data center tersebut dalam serapan lahan di kawasan industri Indonesia yang naik dari 11 persen pada 2020 menjadi 42 persen pada 2023.
Hampir separuh lahan yang terserap di kawasan industri Indonesia kini digunakan untuk data center, melampaui sektor otomotif, logistik, dan seluruh industri lainnya. Pertumbuhan pesat ini kemudian menimbulkan pertanyaan soal kebutuhan air untuk mendinginkan fasilitas-fasilitas tersebut.
Batam menjadi gambaran konkret dari kekhawatiran tersebut. Kapasitas data center di pulau itu tumbuh dari 74 MW pada 2024 menjadi 147 MW pada 2025, menjadikannya pasar data center terbesar kedua Indonesia setelah Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hendra, pulau tersebut menghadapi keterbatasan pasokan air bersih, yang terbagi antara perusahaan utilitas dan air tanah. Di sisi lain, ketergantungan pada air tanah melalui sumur artesis dalam menjadi persoalan tersendiri.
Lihat Juga : |
"Yang harus diperhatikan adalah penggunaan air tanah. Karena konteks ini akan banyak menggunakan artesis atau deep well ya, sangat dalam gitu di sumurnya. Dan itu bisa berdampak juga terhadap penurunan tanah," ujar Hendra.
Penurunan tanah bukan ancaman hipotetis di wilayah-wilayah yang mengandalkan air tanah secara masif. Dampaknya nyata dan jangka panjang terhadap infrastruktur di atasnya.
Dari sisi industri, respons yang menunjukkan upaya untuk menghasilkan pusat data berkelanjutan telah bergerak. Pemain raksasa seperti Microsoft menyatakan komitmennya untuk menggunakan 100 persen energi terbarukan secara global pada 2025.
Untuk pusat data di Indonesia, mereka mengatakan generator cadangannya dirancang untuk menggunakan bahan bakar biofuel terbarukan yang bisa mengurangi net fuel emission.
Di sistem pendingin, Microsoft menyebut sebagian besar fasilitas pusat data yang ada di Indonesia menggunakan sistem pendinginan evaporatif tidak langsung.
Sistem tersebut ditambah dengan chiller berpendingin air sebagai pelengkap dan mengisi periode cuaca yang lebih hangat.
Untuk urusan air, Microsoft membelinya dari Kawasan Industri GIIC dan Kawasan Industri KIIC, lokasi fasilitas data center mereka.
"Apabila kami memang menggunakan air untuk pendinginan, kami bekerja sama dengan perusahaan utilitas setempat untuk memastikan bahwa penggunaan air kami tidak membebani pasokan air di masyarakat," tulis Microsoft dalam lembar fakta tentang konsumsi air pusat datanya.
Sementara itu, IDPRO bersama Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) tengah mengembangkan Standar Green Data Center untuk Indonesia yang memasukkan konsumsi air, emisi CO2, efisiensi energi, dan aspek lingkungan sebagai empat kategori evaluasi utama.
Pengembangan standar itu merupakan pengakuan dari dalam industri sendiri bahwa operasional data center harus dijalankan dengan cara yang paling efisien dari segi energi demi menekan dampak terhadap iklim.
Lihat Juga :![]() LAPORAN INTERAKTIF Membuka Gerbang Datacenter dan Revolusi AI |
Bukan 'serangan terhadap kemajuan'
Laporan UNU-INWEH memperingatkan tentang kompleksitas yang lebih dalam dari tiga jejak lingkungan data center. Mereka menyebut jejak karbon, air, dan lahan tidak selalu bergerak ke arah yang sama.
Misalnya, beralih dari batu bara ke bioenergi bisa memangkas jejak karbon hingga 70 persen, tetapi secara bersamaan melipatgandakan jejak air lebih dari 30 kali dan jejak lahan hingga 100 kali.
Artinya, solusi yang terlihat "hijau" dari sudut pandang emisi karbon belum tentu ramah dari sudut pandang air atau lahan. Para peneliti UNU-INWEH menyimpulkan bahwa "rendah karbon tidak secara otomatis berarti rendah air atau rendah lahan."
Hal ini menjadi peringatan yang relevan bagi setiap negara yang sedang membangun infrastruktur digital skala besar, termasuk Indonesia.
Sementara itu, emisi karbon dari penggunaan listrik oleh data center diperkirakan tumbuh dari 180 juta ton saat ini menjadi 300 juta ton pada 2035 dalam skenario dasar IEA, dan berpotensi mencapai 500 juta ton dalam skenario pertumbuhan yang lebih agresif.
Ekosistem digital tidak akan berhenti berkembang, tetapi para ilmuwan, operator industri, dan regulator semakin sepakat bahwa pertumbuhan tanpa perencanaan yang matang bisa mengalihkan beban lingkungan dari dunia digital ke masyarakat yang sudah rentan.
Kaveh Madani, Direktur UNU-INWEH yang memimpin tim penelitian, menegaskan bahwa laporan yang mereka rilis bukan serangan terhadap kemajuan kecerdasan buatan yang telah meningkatkan kualitas hidup miliaran orang di seluruh dunia, melainkan agar pihak-pihak terkait bisa lebih bertanggungjawab dengan lompatan teknologi ini.
"Ini adalah seruan agar kecerdasan buatan digunakan secara bertanggung jawab dan agar dampak tak terduga yang ditimbulkannya ditangani secara proaktif, demi menjadikannya berkelanjutan dan adil," kata Madani.
(lom/dmi) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


