Kian Dekat Jadi Nyata, Begini Cara 'Matahari Buatan' China Bekerja

CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 14:21 WIB
China mendekati realisasi energi bersih dengan reaktor fusi EAST. Peneliti berhasil meningkatkan efisiensi fusi secara signifikan. (Foto: AFP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ambisi China untuk mewujudkan sumber energi bersih tanpa batas kini berada di ambang realitas. Melalui reaktor fusi nuklir Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) di Hefei, tim peneliti lokal sukses menembus dinding pembatas fisika yang selama berdekade-dekade mengganjal eksperimen fusi global.

Lompatan besar ini terjadi setelah para ilmuwan Negeri Tirai Bambu berhasil mengoperasikan reaktor melampaui batas kepadatan plasma (plasma density limit). Keberhasilan melompati batasan teoretis tersebut diklaim bakal mendongkrak efisiensi fusi secara drastis, sekaligus membawa proyek 'matahari buatan' mereka selangkah lebih dekat untuk menjadi kenyataan.

Reaktor EAST bekerja memanfaatkan medan magnet superkonduktor guna mengurung plasma super panas agar memicu reaksi fusi. Secara teori, pasokan energi bersih yang melimpah baru bisa didapat jika kepadatan plasma di dalam reaktor terus ditingkatkan.

Namun, uji coba di berbagai belahan dunia selalu membentur 'Limit Greenwald'-sebuah batas kepadatan ekstrem yang jika dilewati akan membuat plasma tidak stabil, pecah, hingga merusak dinding bagian dalam reaktor.

Berdasarkan laporan Gizmochina, Institut Fisika Plasma di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China menemukan bahwa biang kerok ketidakstabilan tersebut adalah partikel logam tungsten. Logam pengotor ini terkikis dari dinding reaktor dan masuk mengontaminasi plasma.
Untuk mengatasinya, tim peneliti China menerapkan strategi teknis berikut:

- Model Interaksi Baru: Mengimplementasikan model Boundary Plasma-Wall Interaction Self-Organization (PWSO).
- Pemanasan Resonansi: Memadukan model tersebut dengan sistem pemanasan resonansi siklotron elektron.
- Isolasi Tungsten: Kombinasi ini berhasil menekan efek buruk partikel tungsten tepat di ujung plasma.

Lewat formula ini, plasma berhasil digiring ke area aman bernama "density free zone". Alhasil, reaktor mampu beroperasi melewati batas tradisional tanpa memicu kerusakan fatal.

Riset yang dimuat dalam jurnal Science Advances ini memberikan cetak biru baru bagi pengembangan reaktor fusi densitas tinggi di masa depan. Walau implementasi komersialnya masih memerlukan waktu, China telah sukses memecahkan salah satu tantangan praktis terbesar dalam metode pengurungan magnetik fusi dunia.

(dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK