Pentagon Disebut Pakai AI Milik Elon Musk Tembak 2.000 Misil ke Iran

CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 17:25 WIB
Pentagon menggunakan AI Grok dari xAI untuk meluncurkan ribuan misil ke Iran, memicu kritik setelah serangan yang menewaskan ratusan warga sipil.
Pentagon menggunakan AI Grok dari xAI untuk meluncurkan ribuan misil ke Iran, memicu kritik setelah serangan yang menewaskan ratusan warga sipil. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Merespons hal ini, sejumlah politikus Demokrat di Kongres AS mulai mengajukan rancangan undang-undang untuk membatasi penggunaan AI oleh militer. Langkah ini diambil setelah pejabat tinggi Pentagon menolak menyelidiki kematian warga sipil yang sebenarnya bisa dicegah jika ada kendali AI yang lebih ketat.

Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Senator Kirsten Gillibrand memastikan bahwa komandan manusia harus tetap memegang kendali penuh atas keputusan hidup dan mati. Aturan ini juga akan melarang total penggunaan AI dalam urusan senjata nuklir, pengawasan domestik, serta sistem senjata otonom.

"Keputusan paling kritis yang memengaruhi keamanan nasional kita dan nyawa anggota layanan kita harus selalu dibuat oleh manusia, bukan mesin yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban," kata Gillibrand dalam sebuah pernyataan awal bulan ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, Pentagon saat ini bergerak mengerahkan teknologi AI yang sangat kuat tanpa adanya batasan yang masuk akal. Hal itu dinilai bisa membawa konsekuensi katastrofe yang membuat situasi menjadi tidak aman.

"Kita harus bertindak sekarang, bukan untuk mematikan kemajuan teknologi, tetapi untuk menetapkan aturan main yang jelas yang menjaga manusia tetap memegang kendali dan memastikan penggunaan AI dalam peperangan tetap cerdas dan aman," tegasnya.

Bocor karena gugatan lingkungan

Informasi rahasia mengenai serangan ke Iran ini terungkap setelah Departemen Keadilan (DoJ) AS menyerahkan dokumen sumpah tertulis Stanley ke Pengadilan Federal Mississippi.

Langkah ini diambil Pentagon untuk membela xAI yang sedang menghadapi gugatan hukum dari organisasi pembela hak sipil, NAACP.

NAACP menggugat xAI atas dugaan pencemaran lingkungan ilegal di komunitas warga kulit hitam. Perusahaan milik Elon Musk itu dituduh mengoperasikan sedikitnya 57 turbin gas tanpa izin demi memasok daya di pusat data Colossus 2 milik mereka.

Pentagon membela xAI dengan menyatakan bahwa pusat data tersebut diposisikan untuk menyediakan lonjakan kapasitas energi kritis jika terjadi konflik bersenjata atau situasi mendesak lain yang berdampak pada keamanan nasional.

Data center yang mendukung produk AI milik pemerintah federal disebut sebagai "alat strategis jangka panjang yang vital untuk mempertahankan keunggulan teknologi kita melawan musuh," tulis Stanley dalam dokumen tersebut.

(dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2