Gerhana Matahari Terlama Abad Ini Bakal Hiasi Langit Agustus 2027

CNN Indonesia
Kamis, 02 Jul 2026 18:15 WIB
Gerhana Matahari Total terlama abad ke-21 akan terjadi pada 2 Agustus 2027, melintasi Spanyol, Maroko, Arab Saudi, dan Mesir.
Gerhana Matahari Total terlama abad ke-21 akan terjadi pada 2 Agustus 2027, melintasi Spanyol, Maroko, Arab Saudi, dan Mesir. (Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gerhana Matahari Total (GMT) terlama di daratan yang mudah dijangkau sepanjang abad ke-21 akan terjadi pada 2 Agustus 2027. Fenomena ini menjanjikan pemandangan langit yang tak tertandingi selama enam menit lebih.

Fenomena yang dijuluki "gerhana abad ini" itu akan melintasi Spanyol selatan, Maroko, Arab Saudi, dan Mesir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kota-kota besar yang berada di jalur totalitas antara lain Cádiz dan Málaga di Spanyol, Tangier di Maroko, serta Jeddah dan Mekkah di Arab Saudi.

Luxor di Mesir diprediksi menjadi salah satu destinasi paling populer untuk menyaksikan gerhana ini. Durasi totalitas maksimum selama 6 menit 23 detik akan terjadi sekitar 60 kilometer di tenggara kota tersebut.

Durasi itu jauh melampaui gerhana matahari total 2026 yang hanya berlangsung selama 2 menit 18 detik, maupun gerhana Amerika Utara pada April 2024 yang bertahan selama 4 menit 28 detik.

Secara teori, gerhana matahari total terpanjang yang mungkin terjadi adalah sekitar tujuh setengah menit.

Syaratnya, Matahari harus berada di titik apogee, Bulan di titik perigee, dan jalur totalitas harus melintasi ekuator. Kombinasi ini sangat jarang terjadi bersamaan, tetapi gerhana 2027 mendekati kondisi ideal tersebut.

"Sejauh ini, Bumi adalah satu-satunya planet yang kita ketahui mengalami jenis gerhana matahari seperti ini," kata Kelly Korreck, ilmuwan program gerhana di Markas Besar NASA, dikutip dari Euronews, Kamis (2/7).

"Ada bulan-bulan lain yang melintas di depan Matahari, namun memiliki Bulan dengan ukuran dan jarak yang sempurna untuk menyaksikan ini sungguh istimewa," tambahnya.

Bagi pengamat yang berada di jalur totalitas, pengalaman yang ditawarkan melampaui sekadar pemandangan visual.

Suhu udara dapat turun hingga 10 derajat Celsius saat Matahari tertutup Bulan. Selain itu, bintang-bintang terang dan beberapa planet juga akan tampak di langit yang tiba-tiba menggelap.

Selama fase totalitas, lapisan terluar atmosfer Matahari yang disebut korona yang biasanya tak kasat mata akan terlihat dengan mata telanjang sebagai filamen cahaya tipis yang memanjang ke segala arah.

"Otak manusia cenderung menafsirkan gerhana sebagai sesuatu yang aneh, dan mungkin muncul rasa cemas karena langit menjadi gelap dengan cara yang tidak biasa kita alami," kata Korreck.

"Namun begitu kamu benar-benar melihat totalitas dan menyaksikan bagian luar Matahari yang indah itu, rasanya menakjubkan. Sebanyak apa pun kamu melihatnya, kamu selalu ingin melihatnya lagi," lanjutnya.

Untuk keselamatan pengamatan, kacamata gerhana khusus wajib digunakan di luar fase totalitas. Kacamata tersebut harus memenuhi standar internasional ISO 12312-2, yang ribuan kali lebih gelap dari kacamata hitam biasa.

(lom) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]