Orang Tua Mulai Pakai AI untuk untuk Tentukan Jurusan Kuliah Anak

CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 07:55 WIB
Orang tua memanfaatkan AI untuk membantu anak-anaknya memilih program studi setelah ujian gaokao, menggantikan konsultan berbayar.
Ilustrasi. Orang tua memanfaatkan AI untuk membantu anak-anaknya memilih program studi setelah ujian gaokao, menggantikan konsultan berbayar. (Foto: istockphoto/Wasan Longthara)
Jakarta, CNN Indonesia --

Teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai banyak dimanfaatkan untuk berkonsultasi terkait masa depan pendidikan anak. Salah satu yang melakukan hal tersebut adalah Zhang Qi, seorang pengemudi ojek online di Guangzhou, China.

Zhang memanfaatkan AI untuk membantu putranya memilih program studi di perguruan tinggi usai mengikuti ujian masuk universitas nasional atau gaokao.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zhang menggunakan sejumlah chatbot AI buatan China sebagai "penasihat gratis baru" bagi keluarganya, karena tidak mampu menyewa konsultan pendidikan berbayar seperti yang lazim digunakan keluarga kelas menengah.

"Sebelumnya, kami hanya tahu universitas-universitas di dekat rumah. Sekarang, AI menunjukkan universitas dan jurusan mana saja yang bisa diraih anak kami di seluruh negeri berdasarkan nilai ujiannya. Kami sibuk mencari nafkah dan tidak bisa banyak membantu anak kami," kata Zhang, dikutip dari SCMP, Selasa (14/7).

Putra Zhang yang tumbuh di kampung halaman keluarga di Provinsi Shanxi, China utara berpeluang mewujudkan mimpinya kuliah di Shenzhen, salah satu pusat inovasi teknologi terkemuka di China berkat rekomendasi dari chatbot AI tersebut.

Sistem penerimaan mahasiswa baru di China ditentukan hampir sepenuhnya oleh hasil ujian gaokao. Pada Juni lalu, sebanyak 12,9 juta peserta mengikuti ujian tersebut, dan begitu hasil keluar, para peserta hanya memiliki waktu beberapa hari untuk menentukan jurusan sebelum masa pendaftaran ditutup.

Gelar dari universitas ternama di China memiliki prestise tinggi. Reputasi lulusan bukan hanya dari nama universitas, tetapi juga program studi sehingga pilihan program studi berpotensi menentukan masa depan karier seorang mahasiswa.

Tahun ini, jutaan keluarga beralih ke AI untuk mendapatkan panduan memilih jalur pendidikan tinggi tersebut.

Menurut data Alibaba, lebih dari 14 juta pengguna telah mencoba agen AI penerimaan mahasiswa pada asisten AI Qwen milik Alibaba Group Holding hingga akhir Juni.

Sementara itu, Baidu melaporkan sekitar 15 juta siswa telah menggunakan asisten AI untuk pendaftaran universitas buatannya pada periode yang sama.

Di sisi lain, Tencent Holdings menyebut chatbot Yuanbao miliknya telah menjawab hampir 80 juta pertanyaan terkait penerimaan mahasiswa baru.

Menurut laporan terbaru lembaga riset iiMedia Research, tren ini berpotensi mengganggu pasar konsultasi penerimaan universitas di China yang bernilai sekitar 1,01 miliar yuan pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh menjadi 1,22 miliar yuan pada 2027.

Pasar konsultasi tersebut selama ini menjadi salah satu sumber kesenjangan dalam sistem pendidikan tinggi China.

Keluarga kelas menengah dikenal memanfaatkan berbagai cara, mulai dari konsultan berbayar hingga koneksi keluarga dan profesional, untuk memberi keunggulan bagi anak mereka.

Sebelum maraknya AI, keluarga kelas pekerja seperti keluarga Zhang biasanya mengandalkan guru sekolah, jaringan keluarga, atau figur publik populer seperti Zhang Xuefeng, yang meninggal dunia awal tahun ini, untuk mendapatkan saran memilih universitas.

Meski begitu, konsultan pendidikan tradisional meyakini mereka masih bisa beradaptasi dengan kehadiran AI.

Wu Rui, konsultan asal Guangzhou, menyebut AI menekan layanan konsultasi dasar, namun justru mendorong permintaan atas jasa konsultasi personal yang lebih mendalam.

Wu memangkas tarif jasanya musim penerimaan tahun ini, dari sekitar 5.000 yuan menjadi 2.999 yuan per paket konsultasi standar, menyusul makin populernya agen AI penerimaan mahasiswa.

Ia mengatakan bisnisnya terdampak tahun ini, tetapi permintaan tetap bertahan karena banyak keluarga kini mencari bantuan konsultan manusia untuk menafsirkan rekomendasi yang diberikan chatbot AI.

Wu menilai manfaat AI ini tidak dirasakan merata oleh semua keluarga. Menurutnya, pengguna yang memahami cara menyusun prompt yang detail dan mampu menilai jawaban AI cenderung mendapat hasil lebih baik dibanding mereka yang hanya memasukkan nilai ujian anaknya.

Zhang mengalami sendiri hal ini. Pada awalnya, ia hanya memasukkan hasil ujian putranya, provinsi asal, dan tujuan yang diinginkan, namun mendapati rekomendasi AI terlalu umum.

Setelah mencari informasi di media sosial, Zhang mulai menyusun instruksi yang lebih panjang dan detail, termasuk anggaran biaya kuliah keluarganya serta apakah putranya ingin menjadi pegawai negeri sipil atau masuk militer. Ia juga tetap memeriksa ulang jawaban AI dengan guru dan kerabat.

"Kamu perlu memahami pasar kerja dan cara kerja masyarakat China sebelum tahu apa yang harus ditanyakan ke AI," kata Zhang.

(lom) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]