Peringatan 16 Pemenang Nobel: Hati-hati AI Rebut Kerjaan Manusia

CNN Indonesia
Minggu, 19 Jul 2026 15:30 WIB
Lebih dari 200 ekonom, termasuk 16 peraih Nobel, memperingatkan dampak radikal AI pada ekonomi.
Ilustrasi. Lebih dari 200 ekonom, termasuk 16 peraih Nobel, memperingatkan dampak radikal AI pada ekonomi. (Foto: istockphoto/WANAN YOSSINGKUM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lebih dari 200 ekonom, peneliti, dan pelaku industri, termasuk 16 peraih Hadiah Nobel, memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat mengubah tatanan ekonomi dunia secara radikal dengan sangat cepat. Oleh karena itu, mereka mendesak agar pemerintah harus segera bertindak untuk meminimalkan dampak buruknya.

Surat terbuka yang berjudul 'We Must Act Now' itu memprediksi bahwa kemampuan AI berpotensi menjadi jauh lebih kuat dalam 10 tahun ke depan.

"Akselerasi teknologi yang begitu cepat ini bisa memicu transformasi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan lebih besar dari Revolusi Industri, tapi terjadi dalam kurun waktu yang jauh lebih singkat," demikian isi surat tersebut, mengutip Futurism, Kamis (15/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun salah satu risiko terbesar yang mengancam adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar, surat ini juga mengungkap peluang baru, seperti peningkatan standar hidup yang signifikan. Namun, para pakar ini menyebut bahwa risiko maupun manfaat AI ini tidak akan bisa dikelola dengan baik jika pemerintah dan industri tidak bergerak cepat untuk memahami seberapa besar dampak AI bagi tenaga kerja dunia.

Menurut mereka, langkah ini penting untuk membangun insentif, guardrails, serta lembaga-lembaga yang diperlukan untuk mengarahkan perkembangan AI agar dapat saling melengkapi dengan kemampuan manusia dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Beberapa tokoh yang menandatangani surat ini di antaranya:

  • Daron Acemoglu (profesor di MIT sekaligus peraih Nobel)
  • Simon Johnson (profesor di MIT sekaligus peraih Nobel)
  • Michael Spence (ekonom NYU peraih Nobel) Eric Schmidt (mantan CEO Google)
  • Zoë Hitzig (mantan peneliti OpenAI)
  • Sarah Friar (CFO OpenAI)
  • Jack Clark (cofounder Anthropic)

Meski ditandatangani oleh banyak nama besar, surat ini sebenarnya tidak menawarkan solusi konkret atas permasalahan yang diangkat. Gerakan ini lebih bersifat sebagai kampanye untuk membangun kesadaran publik mengenai skala masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat global saat ini.

Namun, menurut laporan New York Times, hal yang paling menarik dari surat ini adalah keberagaman latar belakang intelektual para penandatangannya. Mereka terdiri dari kelompok yang optimistis terhadap AI, hingga kelompok skeptis yang meragukan kapasitas AI dalam mengubah lanskap ketenagakerjaan di ekonomi secara total.

"Telah terjadi pergeseran pandangan yang cukup mencolok di kalangan akademisi," kata Erik Brynjolfsson, ekonom Stanford yang turut mengoordinasikan surat tersebut.

"Namun saya masih melihat masih ada celah dan ketidaksiapan yang besar. Saya cukup khawatir kita tidak akan siap menghadapi 'tsunami' perubahan yang akan datang," lanjut dia.

(dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]