PP Tunas Sudah Berjalan, Apakah Ruang Digital Lebih Ramah Anak?
Di sisi lain, pemerintah mengakui implementasi PP Tunas masih menghadapi tantangan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan hasil survei yang menjadi rujukan pemerintah menunjukkan tiga dari lima anak memalsukan usia agar tetap dapat mengakses media sosial.
"Ada satu survei yang menunjukkan kalau ada lima anak, tiga anak dipastikan memalsukan usianya untuk bisa masuk ke media sosial. Ini sudah umum terjadi," kata Nezar dalam keterangan tertulis, Minggu (5/7).
Menurut Nezar, kondisi tersebut menunjukkan keberhasilan PP Tunas sangat bergantung pada kemampuan platform membangun sistem verifikasi usia yang andal tanpa mengabaikan perlindungan data pribadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerhati budaya dan komunikasi digital Firman Kurniawan menilai persoalan tersebut memang menjadi salah satu kelemahan utama implementasi PP Tunas.
"Kalaupun terhalang oleh tidak bisa mendaftar di aplikasinya, dia (anak-anak) akan mengakali memalsukan umur," kata Firman pada Selasa (21/7).
Ia menilai kondisi itu terjadi karena "filternya sangat lemah di aplikasi itu."
Selain itu, Firman mengatakan pembatasan akses belum tentu membuat anak berhenti menggunakan media sosial. Mereka justru dapat berpindah ke platform lain yang pengawasannya lebih lemah.
"Mereka akan cenderung mencari jalan lain yang itu justru jalan-jalan yang mungkin tidak terawasi oleh peraturan," tuturnya.
Oleh karena itu, ia mengingatkan pemerintah agar tidak hanya menjadikan jumlah akun yang ditutup sebagai ukuran keberhasilan.
"Jangan-jangan pemerintah berhasil di situ, tapi mereka bobol pintu belakang yang kita malah enggak tahu," kata Firman.
Menurut dia, penegakan aturan sebaiknya lebih difokuskan kepada platform agar mereka benar-benar mampu mencegah anak masuk ke ruang digital yang berisiko.
Komitmen platform
Dari sisi platform, Meta sebagai pemilik Instagram, Facebook, dan Threads menyatakan memiliki tujuan yang sama dengan pemerintah untuk menjaga keamanan pengguna usia muda di internet.
Kepala Kebijakan Publik Indonesia dan Filipina Meta Berni Moestafa mengatakan perusahaan telah mengembangkan Akun Remaja yang secara otomatis membatasi siapa yang dapat menghubungi remaja, jenis konten yang mereka lihat, serta waktu penggunaan platform.
Berni mengatakan penerapan pembatasan tersebut juga perlu didukung mekanisme verifikasi usia yang tetap menjaga privasi pengguna.
"Agar efektif dan mudah digunakan oleh orang tua, setiap pembatasan harus didukung oleh langkah-langkah verifikasi usia yang menjaga privasi sehingga orang tidak diminta untuk menyerahkan KTP kepada puluhan layanan individual untuk membuktikan usia mereka," jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (22/7).
Meta juga menyatakan masih berdiskusi dengan pemerintah mengenai implementasi PP Tunas di Indonesia.
Empat bulan implementasi menunjukkan PP TUNAS mulai berjalan melalui penutupan jutaan akun anak dan evaluasi ratusan platform. Namun, tantangan terbesar justru berada pada efektivitas verifikasi usia, kepatuhan platform, dan kemampuan orang tua mendampingi anak di ruang digital.
(lom/dmi) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

