BRIN Ungkap Dugaan Pemicu Kematian Massal Ikan di Danau Batur

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 16:01 WIB
Kematian massal 25 ton ikan di Danau Batur, Bali, disebabkan letupan belerang dan pencampuran kolom air. Peneliti BRIN menyelidiki penyebabnya lebih lanjut. (Foto: Arsip I Wayan Agus Wirawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena kematian massal ikan di Danau Batur, Bali mendapat sorotan warga dalam beberapa waktu terakhir. Tercatat, sebanyak 25 ton ikan budidaya mati akibat letupan belerang yang terjadi di Danau Batur.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut, berdasarkan hasil pemantauan lapangan, peristiwa ini diduga berkaitan dengan fenomena pencapuran kolom air danau, yakni proses alami ketika massa air dari lapisan dasar naik dan bercampur dengan air permukaan.

Peneliti biogeokimia Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Sulung Nomosatryo mengatakan, saat kejadian tim peneliti menemukan bahwa kadar oksigen terlarur di permukaan danau turun hingga mendekati 0 mg/L. Para peneliti juga mencium bau menyengat hidrogen sulfida (H2S), yang mengindikasikan bahwa air dari lapisan dasar danau terangkat ke permukaan.

Secara alami lapisan dasar danau memiliki kandungan oksigen yang lebih rendah karena berlangsungnya proses dekomposisi bahan organik dalam waktu lama. Pada lapisan itu juga dapat terakumulasi senyawa sulfida.

Kemudian, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen itu naik ke permukaan dan membawa sulfida ke habitat ikan ketika terjadi pencampuran massa air. Menurut Sulung, dalam kondisi tertentu, sulfida dapat berubah menjadi hidrogen sulfida, bentuk paling beracun bagi ikan.

"Keberadaan bau H2S menunjukkan bahwa air dari lapisan bawah kemungkinan telah terangkat ke permukaan. Namun, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa sulfida merupakan penyebab tunggal kematian ikan," kata Sulung, melansir laman resmi BRIN, Senin (3/8).

Ia melanjutkan bahwa peneliti perlu melakukan analisis laboratorium dan kajian terhadap seluruh parameter kualitas air agar penyebab kejadian kematian massal ikan ini dapat dipahami secara utuh.

Peneliti hidrodinamika danau BRIN Arianto Budi Santoso menambahkan, karakter Danau Batur sebagai danau vulkanik yang berada di dekat Gunung Batur menyebabkan kandungan senyawa sulfur di danau itu relatif lebih tinggi dibanding danau lainnya.

Pada kondisi tanpa oksigen, senyawa sulfat di dasar danau akan berubah menjadi sulfida. Ketika proses pencampuran air terjadi, sulfida naik ke lapisan yang mengandung oksifen dan mengalami proses oksidasi kembali menjadi sulfat.

Ia menjelaskan bahwa proses ini juga mengonsumsi cadangan oksigen terlarut dalam danau.

"Berdasarkan hasil penelitian, periode mixing di Danau Batur biasanya terjadi pada bulan Juni-Agustus, akhir Desember, dan Februari," kata Arianto.

Meski merupakan proses alami, dampak pencampuran kolom air tidak selalu sama pada setiap kejadian. Kondisi cuaca, karakteristik fisik danau, kualitas air, hingga kondisi ekosistem saat pencampuran berlangsung menjadi faktor yang memengaruhi besarnya dampak terhadap kehidupan biota perairan.

(dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK