Insiden Langka, Roket China Meledak Tak Lama Setelah Lepas Landas

CNN Indonesia
Selasa, 11 Agu 2026 15:05 WIB
Roket Long March 7A China meledak 85 detik setelah peluncuran, menjadi kegagalan langka. (Foto: via REUTERS/Social Media)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah roket China yang membawa satelit meledak hanya beberapa detik setelah lepas landas. Ini menjadi kegagalan yang cukup langka bagi roket yang selama ini jadi tulang punggung program antariksa Beijing.

Sebuah rekaman video menunjukkan roket Long March 7A itu tiba-tiba berubah menjadi bola api raksasa sekitar 85 detik setelah meluncur dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang di Pulau Hainan pada Senin (10/8) malam.

Long March 7A merupakan roket pengirim satelit yang dirancang oleh China Academy of Launch Vehicle Technology, anak perusahaan dari China Aerospace Science and Technology Corporation, kontraktor utama milik negara untuk program luar angkasa China.

Peluncuran ini seharusnya menjadi misi ke-18 bagi Long March 7A. Roket ini tercatat baru sekali mengalami kegagalan sebelumnya, yaitu pada penerbangan perdananya di tahun 2020.

Upaya kedua pada Maret 2021 berhasil berjalan lancar dan sempat menarik perhatian kerumunan warga yang datang untuk menyaksikan peluncuran tersebut.

Menyusul kegagalan Long March 7A, peluncuran roket Zhuque-3 yang dinanti-nantikan dan dijadwalkan pada Selasa pagi di stasiun peluncuran satelit Jiuquan terpaksa ditunda.

Zhuque-3, yang dikembangkan oleh perusahaan roket swasta LandSpace, merupakan langkah serius pertama China dalam menciptakan roket peluncur yang dapat dipakai ulang. Roket ini melakukan penerbangan pertamanya pada Desember 2025, namun bagian pendorong tahap pertamanya mengalami kebakaran sebelum akhirnya jatuh di dekat lokasi pendaratan yang ditargetkan.

Berbeda dengan Zhuque-3, Long March 7A merupakan roket tiga tahap yang memang tidak dirancang untuk dapat digunakan kembali.

Memiliki panjang hampir 60 meter, roket ini dilengkapi empat pendorong dan mampu mengangkut beban hingga tujuh metrik ton menuju orbit transfer geostasioner (GTO), atau berada pada ketinggian sekitar 35.405 kilometer di atas permukaan Bumi.

'Disembunyikan' China

Melansir CNN, insiden gagalnya peluncuran roket ini tak banyak dibahas oleh media lokal China.

Kantor berita Xinhua baru mengonfirmasi kegagalan tersebut tiga jam setelah jadwal peluncuran, dengan menyebutkan bahwa roket mengalami kelainan fungsi saat penerbangan. Pihak berwenang menyatakan penyebab pasti insiden ini masih dalam tahap penyelidikan tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Di media sosial China, peredaran video peluncuran sebagian besar dibatasi pada konten milik afiliasi pemerintah. Sementara itu, video yang diunggah oleh masyarakat tampak dihapus atau dibatasi agar tidak muncul di hasil pencarian pada platform populer seperti Xiaohongshu dan Douyin.

Presiden China Xi Jinping memang berambisi menjadikan negaranya sebagai pemimpin dunia di bidang ilmu pengetahuan luar angkasa pada tahun 2050. Saat ini China sedang terlibat persaingan ketat dengan Amerika Serikat di berbagai lini, termasuk teknologi peluncur yang dapat dipakai ulang, penelitian Bulan, hingga peluncuran satelit.

Pemilik SpaceX Elon Musk, turut mengomentari insiden ini. Musk, yang pernah mengalami beberapa kali roketnya meledak setelah diluncurkan, menyebut bahwa membuat roket memang tidak mudah.

"Membuat roket itu memang luar biasa sulit," kata Musk dalam cuitannya di X.

(dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK