Jejak Danau Purba di Bawah Bandung, Ahli Ingatkan Potensi Likuefaksi
Hal ini menjadi relevan karena Bandung berada tidak jauh dari sejumlah sumber gempa bumi di darat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sesar Lembang yang membentang sekitar 29 kilometer berarah barat hingga timur dan berjarak sekitar 10 kilometer di utara kota Bandung.
Selain Sesar Lembang, penelitian geofisika juga menunjukkan indikasi keberadaan patahan-patahan lain di bawah permukaan Cekungan Bandung yang tidak semuanya terlihat pada permukaan.
Edi menekankan bahwa karakteristik Danau Bandung Purba secara geologi perlu dipahami lebih jauh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, karakter endapan bekas danau dapat memengaruhi respons tanah ketika gelombang gempa dari suatu sumber mencapai Cekungan Bandung. Pasalnya, risiko gempa tidak cukup dilihat hanya dari sumber gempanya, tetapi juga kondisi geologi wilayah yang menerima guncangan.
"Ini yang menjadi perhatian khusus karena Sesar Lembang paling dekat dengan Bandung. Sementara Bandung ini adalah danau purba yang kalau bergetar ada efek amplifikasinya," imbuh Edi.
Ancaman potensi likuefaksi
Ia mengingatkan bahwa keberadaan lapisan pasir yang bersifat porositas tinggi pada endapan danau Bandung juga perlu diperhatikan karena terkait dengan potensi likuefaksi.
Likuefaksi adalah fenonena ketika tanah jenuh air kehilangan kekuatan dan kekakuannya akibat getaran gempa, sehingga berubah sifat menjadi seperti cairan.
Ketika lapisan pasir jenuh air menerima tekanan akibat guncangan gempa, tekanan air di dalam material dapat meningkat dan mendorong air serta pasir menuju permukaan. Kondisi tersebut berpotensi memicu penurunan tanah.
Potensi likuefaksi di Bandung berbeda dengan peristiwa likuefaksi berskala besar di Kota Palu, Sulawesi. Sebab, keberadaan lapisan pasir dan air tanah jenuh pada endapan Danau Bandung Purba merupakan salah satu kondisi geologi yang perlu menjadi kajian risiko kegempaan daerah Bandung.
Edi melihat kondisi di bawah permukaan ini menjadi semakin penting karena kawasan Cekungan Bandung telah berkembang menjadi wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan infrastruktur yang tinggi.
Berbagai bangunan dan infrastruktur berdiri di atas endapan yang memiliki karakter geologi berbeda-beda. Oleh karena itu, pemahaman mengenai struktur bawah permukaan diperlukan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko apabila terjadi gempa.
Di samping itu, pembangunan harus memperhatikan kondisi geologi sekaligus standar teknis bangunan tahan gempa.
"Pembangunan di Bandung ini harus melihat kode bangunan. Harus diperhatikan kekuatan secara teknisnya seperti apa, kalau ada gempa besar bagaimana bangunannya," tegasnya.
Menurutnya, gempa memang tidak selalu terjadi dalam interval waktu yang pendek, tetapi konsekuensinya dapat menjadi besar. Oleh karena itu, seharusnya pengetahuan mengenai sejarah Danau Bandung Purba tidak berhenti pada cerita mengenai masa lalu.
Jejak geologinya harus menjadi informasi penting untuk memahami karakter wilayah yang dihuni jutaan orang.
Menurutnya, kondisi ini perlu direspons melalui mitigasi struktural. Caranya dengan memperkuat bangunan sekaligus mengingatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana di lingkungan tempat tinggalnya.
(nad/dmi)
