Resmi Jadi CEO Apple, John Ternus Hadapi Tantangan Berat Soal AI
Apple memulai era baru di bawah kepemimpinan John Ternus sebagai CEO. Akankah ia dapat membenahi masalah pengembangan kecerdasan buatan (AI) perusahaan?
Sebagai CEO baru, banyak yang berekspektasi besar terhadap Ternus. Salah satu tantangan yang harus dihadapinya adalah pengembangan AI di perusahaannya.
John Ternus ditantang untuk merombak strategi AI, sekaligus menjaga perusahaan tetap berada di puncak. Mengingat harga saham Apple telah melonjak lebih dari 2.000 persen sejak Tim Cook menjabat sebagai CEO pada tahun 2011 dan perusahaan telah menjual lebih dari 3,1 miliar unit iPhone selama periode tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penampilan perdana Ternus sebagai CEO dalam acara Apple Event pada tanggal 9 September sangat dinanti oleh para pengamat. Mereka menantikan sejauh mana ia memfokuskan pidatonya pada topik AI.
Meski sudah sangat jelas sejak pengumumannya sebagai pengganti Tim Cook di bulan April bahwa tren AI akan menjadi kunci di masa kepemimpinannya. Pasalnya, Apple dinilai masih tertinggal dalam mengembangkan teknologi ini.
Dalam lima bulan terakhir, semakin terbukti bahwa revolusi AI lebih dari sekadar tren sesaat. Teknologi ini akan terus berkembang.
"Semakin jelas bahwa AI bukanlah sekadar tren sesaat, bukan sesuatu yang akan hilang dalam dua atau tiga tahun ke depan. Ini adalah sesuatu yang akan menentukan masa depan sebagai bagian besar perusahaan teknologi, dan bahkan semua perusahaan pada umumnya," ungkap VP of Data and Analytics IDC Fransisco Jeronimo, melansir DW, Selasa (1/9).
Menurutnya, AI dapat menjadi teknologi paling berdampak untuk Apple. Sebab, teknologi ini dapat membantu perusahaan dalam mempertahankan posisi puncak atau justru menciptakan serangkaian tantangan yang berat.
Jeronimo melihat salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana Apple tidak menguasai infrastruktur AI. Biasanya perusahaan selalu bisa merancang dan mengendalikan perangkat keras maupun lunak untuk produk andalannya secara mandiri.
Namun, ia tidak melihat upaya serupa dalam pengembangan AI di perusahaan. Oleh sebab itu, hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh Ternus.
"Mungkin itulah langkah berbeda yang akan dilakukan John Ternus dibandingkan Tim Cook, karena saat ini, meskipun Apple membangun teknologi AI mereka sendiri, kenyataannya mereka masih bergantung pada pihak lain," tambahnya.
Menurut Jeronimo, ketergantungan Apple terhadap perusahaan lain dalam mengembangkan AI telah membawa perusahaan ke wilayah yang kurang bersahabat. Salah satu contohnya adalah kesepakatan yang dibuat oleh OpenAI pada tahun 2024 untuk mengintergasikan ChatGPT ke dalam iPhone.
Kesepakatan tersebut berakhir dengan perselisihan sengit antara kedua perusahaan. Apple menggugat OpenAI awal tahun ini dengan tuduhan pencurian rahasia dagangnya.
Selanjutnya, Apple mengumumkan kesepakatan dengan Google di awal tahun ini. Dalam kesepakatan ini, Gemini AI akan digunakan untuk model Apple sendiri dan versi terbaru dari Siri.
"Risiko bagi Apple adalah mereka bisa menjadi kurang relevan di dunia di mana perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic memimpin dalam hal teknologi, popularitas, layanan, dan bahkan berpotensi memimpin di perangkat keras," kata Jeronimo.
"Jika suatu saat OpenAI merilis gadget, itu bisa berisiko bagi Apple. Mereka bisa merombak total pengalaman dan cara kita berinteraksi dengan teknologi. Jika Apple tidak berada di garis depan inovasi tersebut, itu adalah risiko yang sangat besar," imbuhnya.
Latar belakang Ternus yang berperan dalam menangani produk inti Apple, serta melahirkan inovasi seperti Apple Watch dan AirPods, membuatnya diharapkan mampu memimpin arah pengembangan produk-produk baru berbasis Ai untuk perusahaan.
Ia juga berperan penting dalam memelopori peralihan Apple dalam merancang chip komputer sendiri, alih-alih mengandalkan pemasok eksternal seperti Intel.
Menurut Jeronimo, Apple masih memiliki keuntungan besar, mengingat basis penggunanya yang luar biasa besar serta budaya perusahaannya yang telah mendominasi inovasi teknologi selama puluhan tahun.
Jika Apple mampu menaklukkan AI di bawah kepemimpinan Ternus, kata dia, hal ini bisa berujung pada kesuksesan besar.
"Apa yang kita lihat di tahun-tahun mendatang akan menentukan apakah Apple berada di jalur yang benar atau justru sedang kewalahan," kata dia.
Tugas pertama Ternus adalah dapat beradaptasi secara mulus dan meyakinkan konsumen ke dalam peran yang sebelumnya begitu melekat dengan karakter Steve Jobs dan Tim Cook.
"Steve Jobs adalah sang pakar inovasi dan disrupsi, sedangkan Tim Cook adalah sang pakar eksekusi. Saya rasa John Ternus bisa menjadi perpaduan dari keduanya," tutup Jeronimo.
Pada Apple Event tanggal 9 September mendatang, John Ternus diperkirakan akan mengumumkan produk terbaru Apple. Yakni, iPhone 18 Pro Series, iPhone lipat pertama Apple, dan Siri yang kini berbasis AI.
(nad/dmi)

