Kapan Hujan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Berhenti? Ini Kata Pakar
Hujan abu vulkanik mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Lampung pasca erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9). Kapan hujan abu vulkanik ini akan berhenti?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyatakan bahwa hujan abu vulkanik akibat erupsi gunung tidak dapat ditentukan oleh kalender. Pasalnya, letusan baru akan berhenti jika pasokan magma segar dari perut bumi sudah habis dan tekanan di dalam dapur magma sudah tenang kembali.
Menurut Daryono, selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun.
"Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun, kadang tenang, kadang membesar," kata Daryono dalam pernyataan tertulisnya, Senin (7/9).
Arah dan sebaran abu sangat bergantung pada dua hal. Pertama, seberapa kuat letusan gunung dan ke arah mana angin bertiup.
Ketika terjadi letusan gunung yang kuat, abu halus akan terlempar sangat tinggi hingga mencapai lapisan udara teratas. Kemudian, angin kencang akan membawa partikel-partikel debu ini melayang jauh hingga puluhan, bahkan ratusan kilometer sebelum jatuh ke tanah.
Lebih lanjut, Daryono turut menjelaskan alasan pasokan magma yang dapat berhenti. Menurutnya, pasokan ini akan berakhir ketika dorongan alami dari dalam bumi kehilangan tenaganya.
Tanpa dorongan yang kuat, cairan magma di dalam saluran gunung akan mendingin, mengeras dan akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitar. Di saat itulah, gunung api akan kembali ke kondisi stabil dan tidak lagi mampu menyemburkan material ke permukaan.
"Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya drastis bau gas menyengat, serta tubuh gunung yang mulai menyusut," kata Daryono.
Meski demikian, Daryono menyebut berhentinya pasokan magma sulit diprediksi dan belum ada teknologi yang mampu mengukur sisa jumlah magma di dalam Bumi secara persis. Pasalnya, perut bumi merupakan sistem alam yang rumit dan keberadaannya puluhan kilometer di bawah tanah.
"Belum ada teknologi di dunia yang bisa mengukur sisa jumlah magma di dalam Bumi secara persis. Ini mirip kejadian gempa yg belum dapat diprediksi hingga saat ini karena mekanisme terjadinya di kedalaman jauh di bawah permukaan bumi," imbuhnya.
Ketika memprediksi kapan aktivitas gunung akan berhenti, biasanya para ahli vulkanologi membaca pola dengan cara memantau penurunan gempa serta badan gunung secara terus-menerus, seperti deflasi dan deformasi permukaan. Alih-alih, menebak tanggal.
"Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola. Appreciate untuk PVMBG Badan Geologi yang tiada lelah terus bekerja untuk ini," tutup Daryono.
Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Lampung sejak Sabtu (5/9) mulai pukul 17.00 WIB hingga malam hari.
Sebaran abu vulkanik tersebut melanda Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, hingga Lampung Barat.
Dampak dari sebaran abu vulkanik ini membuat warga mengeluhkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman, hingga mengalami gangguan pernapasan. Perubahan arah angin diduga jadi penyebab utama abu vulkanik terbawa hingga jangkauan yang lebih jauh.
(nad/dmi)