Apa Penyebab 6 Gunung Api Meletus Bersamaan? Ini Kata Pakar

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 12:53 WIB
Erupsi bersamaan beberapa gunung api di Indonesia pada September 2026 bukan hal aneh. Setiap gunung memiliki siklus aktivitas unik, tidak saling memicu. (Foto: ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah gunung api mengalami erupsi atau meletus secara bersamaan pada awal September 2026. Lantas, apa penyebabnya?

Gunung yang erupsi dalam beberapa hari terakhir yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Ibu, Gunung Lewotobi Laki-laki, dan Gunung Sinabung. Fenomena ini tergolong tidak biasa, karena kejadian serupa jarang ditemukan dalam beberapa dekade terakhir.

Kendati begitu, fenomena ini tidak menunjukkan bahwa semua gunung yang erupsi ini berada dalam satu sistem vulkanik yang sama.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Indranova Suhendro menjelaskan, setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus aktivitasnya masing-masing. Menurutnya, kesamaan waktu erupsi lebih tepat dilihat sebagai pertemuan siklus aktivitas yang berbeda.

Ia mengatakan bahwa ada gunung berapi yang memang memiliki frekuensi erupsi tinggi seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara gunung lainnya memiliki periode istirahat yang lebih panjang sebelum kembali aktif.

Menurut dia, ketika siklus-siklus itu beririsan pada satu periode, sejumlah gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan.

"Menurut saya ini lebih ke masalah timing," kata Indranova, melansir laman resmi UGM, Selasa (8/9).

Kesamaan jalur subduksi di Indonesia juga tak otomatis menunjukkan hubungan langsung antarsistem magma. Setiap gunung mempunyai sistem magma yang bekerja secara lokal, sehingga erupsi pada satu gunung tidak otomatis memicu gunung lainnya.

Kemungkinan keterkaitan dapat lebih terbuka pada gunung-gunung yang lokasinya berdekatan. Sementara itu, peristiwa yang terjadi saat ini kondisinya berbeda, karena gunung-gunung tersebut tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, dan Maluku.

"Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar yang satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin," jelas dia.

Ia mengatakan perbedaan sistem itu tercermin pada mekanisme erupsi masing-masing gunung. Pada Sinabung, Ibu, dan Semeru, terdapat mekanisme ketika panas dari magma di bawah gunung memanaskan air yang tersimpan di tubuh gunung, sehingga tekanan dapat meningkat dan memicu erupsi freatik tanpa selalu disertai tanda kenaikan aktivitas kegempaan vulkanik.

Mekanisme tersebut berbeda dengan erupsi magmatik pada Anak Krakatau yang berkaitan dengan magma yang memiliki kandungan gas tinggi. Ia mengibaratkan mekanisme magmatik ini seperti minuman bersoda, karena bersifat eksplosif yang disebabkan oleh nukleasi gas secara masif akibat proses dekompresi yang intens.

Menurut Indranova, jika sebagian aktivitas tersebut berlangsung lewat proses internal masing-masing gunung, faktor dari luar sistem gunung api dapat berperan pada kondisi tertentu. Ia mencontohkan peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik di Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok setelah gempa Flores, yang kemudian diikuti aktivitas erupsi.

Ia mengaitkan kemungkinan tersebut dengan pengaruh guncangan gempa terhadap gas yang terlarur dalam magma, tapi menegaskan bahwa mekanisme tersebut belum dapat dipastikan berlaku pada seluruh gunung api.

"Bukti bahwa gejala aktivitas kegempaan vulkanik pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pascagempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores," ungkap dia.

[Gambas:Video CNN]

Bukan hal aneh

Badan Geologi, dalam sebuah unggahan di Instagram, juga mengungkap bahwa erupsi bersamaan gunung api yang terjadi di Indonesia beberapa hari terakhir ini bukan hal aneh. Menurut Badan Geologi, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi hal ini.

Menurut Badan Geologi, Indonesia berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik dan punya banyak gunung api aktif. Beberapa gunung api dapat erupsi pada hari yang sama secara alami.

"Ini tidak otomatis berarti ada satu fenomena besar yang menghubungkan semuanya," kata Badan Geologi dalam penjelasannya di Instagram.

Badan Geologi menjelaskan, masing-masing gunung api memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Selain itu, erupsi juga merupakan aktivitas rutin gunung api, meski tidak selalu erupsi dengan skala besar.

Oleh karena itu, erupsi beberapa gunung api yang terjadi pada hari yang sama merupakan aktivitas vulkanis yang alami dan tidak saling memicu satu sama lain.

(dmi)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK