NASA Ungkap Potret Satelit Gunung Anak Krakatau Saat Erupsi

CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 21:00 WIB
Gunung Anak Krakatau meletuskan abu dan gas vulkanik 5 September 2026.NASA Earth Observatory/Michala Garrison
NASA mengungkap citra satelit erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung lebih dari 24 jam. (Foto: NASA Earth Observatory/Michala Garrison)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkap potret satelit Gunung Anak Krakatau saat mengalami erupsi eksplosif pada akhir pekan lalu.

Citra tersebut direkam sejumlah satelit yang melintas di kawasan Anak Krakatau pada 5 September, ketika erupsi berlangsung lebih dari 24 jam dan melontarkan gas serta abu tinggi ke atmosfer.

Dalam citra yang diambil instrumen Operational Land Imager (OLI) pada satelit Landsat 8 milik NASA-USGS, terlihat kepulan putih gas vulkanik membubung di atas awan abu berwarna cokelat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara citra dari instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit Suomi NPP memperlihatkan material vulkanik menyebar di area yang jauh lebih luas.

"Satelit-satelit yang melintas di atas wilayah tersebut selama letusan pada tanggal 5 September berhasil merekam gambar-gambar aktivitas letusan tersebut," tulis NASA dalam keterangannya pada Rabu (9/9).

NASA menyebut erupsi Anak Krakatau merupakan kejadian yang cukup rutin, meski sebagian besar aktivitasnya relatif ringan.

Namun, pada awal September 2026, gunung api yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra itu menunjukkan aktivitas yang lebih kuat dan berbahaya.

Erupsi yang berlangsung lebih dari 24 jam mengirim gas dan abu tinggi ke atmosfer, mengganggu ribuan penerbangan dan menurunkan kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta.

Mengutip laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), NASA menyebut abu vulkanik mencapai ketinggian hingga sekitar 6.000 meter di sebelah timur gunung dan 15 ribu meter di sebelah barat pada 6 September.

Keberadaan abu di atmosfer memicu penutupan sementara delapan bandara di Jawa dan Sumatra.

Berdasarkan laporan media yang dikutip NASA, gangguan tersebut berdampak pada hampir 3.000 penerbangan yang masuk dan keluar kawasan tersebut.

NASA juga mencatat hujan abu memengaruhi wilayah berpenduduk, khususnya di sebelah timur Anak Krakatau.

Dampak tersebut dilaporkan terjadi di Jakarta dan sejumlah wilayah lain di Jawa Barat.

Mengutip Indonesian Humanitarian Coordination Platform (IHCP), NASA menyebut abu vulkanik dapat menimbulkan risiko kesehatan serta mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit.

IHCP juga mencatat bahaya kualitas udara dari abu vulkanik berbeda dengan asap kebakaran lahan gambut di wilayah lain Indonesia.

Perbedaannya antara lain terdapat pada karakteristik partikel, pola penyebaran, dan langkah perlindungan yang diperlukan.

Pada 6 September, erupsi eksplosif berkelanjutan Anak Krakatau mulai mereda, meski aktivitas gunung masih berlanjut.

NASA menyebut pola erupsinya kemudian kembali menjadi lebih khas berupa erupsi Strombolian, yang ditandai lontaran abu dan material vulkanik secara berselang.

Bandara-bandara yang sempat terdampak mulai kembali beroperasi pada 8 September.

Namun, hingga saat itu Anak Krakatau masih berada pada status peringatan kedua tertinggi dalam skala nasional, seperti yang telah berlaku sejak awal Juli.

(lom)
placeholder