Bulan Perlahan Menjauhi Bumi, Durasi Satu Hari Bisa Jadi 25 Jam
Bulan ternyata perlahan bergerak menjauhi Bumi dengan laju sekitar 3,8 sentimeter (cm) per tahun. Fenomena ini merupakan bagian dari interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan yang berlangsung dalam waktu sangat panjang.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa selama ini Bumi dan Bulan saling berinteraksi secara gravitasi. Interaksi tersebut antara lain memengaruhi rotasi Bumi dan orbit Bulan.
Menurut dia, Bulan rata-rata menjauh sekitar 3,8 cm per tahun dari jarak rata-rata Bumi-Bulan yang mencapai 384.000 kilometer (km).
"Gravitasi bumi menyebabkan efek gaya pasang surut pada bulan yang menyebabkan rotasi bulan diperlambat dan akhirnya terkunci pada periode 27,3 hari, sama dengan periode revolusinya," kata Thomas dalam keterangan di kanal YouTube miliknya, dilansir Rabu (16/9).
Di sisi lain, gravitasi Bulan juga menyebabkan gaya pasang surut di Bumi. Gaya ini secara perlahan mengerem rotasi Bumi sehingga panjang hari bertambah.
"Dalam 200 juta tahun diperkirakan rotasi Bumi diperlambat 1 jam, panjang hari di bumi menjadi 25 jam," ujar Thomas.
"Interaksi Bumi dan Bulan tersebut yang menyebabkan Bulan menjauhi Bumi walau dampaknya baru terasa setelah ratusan juta tahun," tambahnya.
Mengapa Bulan bisa menjauh dari Bumi?
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menjelaskan fenomena ini berkaitan dengan bentuk lintasan orbit Bulan yang elips, bukan lingkaran sempurna.
"Efek Bulan menjauh dari Bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi Bulan terhadap Bumi yang berupa elips. Ada saat Bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi Bulan," jelas Sonni, melansir laman resmi IPB.
Artinya, jarak Bulan terhadap Bumi memang tidak selalu sama sepanjang orbitnya. Dalam setiap periode revolusi, Bulan mengalami titik terdekat yang disebut perigee dan titik terjauh yang disebut apogee.
Sementara itu, dalam jangka panjang, interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan juga menyebabkan jarak rata-rata keduanya terus bertambah.
Dalam interaksi tersebut, gravitasi Bulan menarik air laut di Bumi dan menciptakan pasang surut. Ketika Bumi berputar lebih cepat daripada pergerakan Bulan, putaran Bumi ini ikut menyeret air pasang tersebut ke depan, yang lama-kelamaan membuat putaran Bumi menjadi semakin lambat dari waktu ke waktu.
Di sisi lain, tarikan dari air pasang tersebut tidak hanya berdampak pada Bumi, tetapi juga memberikan dorongan energi kepada Bulan akibat transfer momentum sudut dari gaya pasang surut air laut. Dorongan ini membuat posisi Bulan perlahan menjauh dari Bumi setiap tahunnya.
Dampak menjauhnya Bulan dari Bumi
Sonni menyatakan Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi merupakan proses alamiah dan tidak perlu dikhawatirkan karena berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Fenomena ini tidak memberikan dampak langsung yang terasa bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan jarak sekitar 3,8 cm per tahun terlalu kecil untuk menimbulkan perubahan yang dapat dirasakan manusia secara langsung.
Bulan memang memiliki peran penting terhadap pasang surut air laut lewat gaya gravitasinya. Fenomena pasang surut ini berpengaruh terhadap berbagai aktivitas di wilayah pesisir, termasuk kegiatan nelayan.
Namun, pasang surut bukan dampak baru yang muncul karena sedang menjauh. Pasang surut merupakan proses alamiah yang sudah berlangsung akibat interaksi gravitasi Bumi, Bulan, dan Matahari.
"Fenomena Bulan menjauh dari Bumi tidak berdampak langsung terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya baru terasa melalui mekanisme lain," tuturnya.
Apakah Bulan akan lepas dari Bumi?
Meskipun perlahan menjauh, Bulan tidak akan begitu saja lepas dari gravitasi Bumi dalam waktu dekat.
Dalam skenario yang sangat jauh di masa depan,
rotasi Bumi akan terus melambat hingga terkunci secara pasang surut dengan Bulan. Pada kondisi tersebut, satu sisi Bumi akan selalu menghadap Bulan, dan Bulan tidak lagi menjauh.
Namun, skenario ini diperkirakan baru akan terjadi dalam rentang waktu yang jauh lebih panjang daripada usia peradaban manusia.
Sebelum itu terjadi, Bumi akan menghadapi perubahan kosmik yang jauh lebih besar. Dalam sekitar satu miliar tahun, Matahari diperkirakan akan semakin terang dan membuat Bumi kehilangan air hingga menjadi tidak layak lagi huni bagi kehidupan seperti sekarang.
Beberapa miliar tahun setelahnya, Matahari akan mengembang menjadi raksasa merah dan kemungkinan menghancurkan Bumi beserta Bulan.
(fta/dmi)