Bisakah AI Memusnahkan Manusia dan Bagaimana Caranya?

CNN Indonesia
Minggu, 20 Sep 2026 08:05 WIB
ilustrasi AI
Pekerja AI khawatir teknologi ini bisa memicu kepunahan manusia. Beberapa skenario, termasuk virus mematikan dan robot otonom, diungkapkan oleh para pakar. (Foto: istockphoto/Wasan Longthara)

Bom nuklir juga masuk jadi salah satu skenario kepunahan manusia. Pasalnya, senjata nuklir telah telah ada selama dari 80 tahun dan secara umum dipahami dapat memusnahkan seluruh kehidupan manusia. Namun, bisakah AI menguasai senjata nuklir?

Heidy Khlaaf, Kepala Ilmuwan AI di AI Now Institute sekaligus mantan insinyur keselamatan OpenAI, menunjukkan bahwa fasilitas nuklir terisolasi dari jaringan internet publik, yang membatasi cara agen AI untuk mengakses kendalinya.

"Sistem-sistem ini dibangun dengan standar rekayasa yang sangat berbeda, ketat, dan teratur yang sering kali membutuhkan perlindungan fisik," kata Khlaaf.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, menurut Herbert Lin, peneliti senior di Stanford University, menilai bahwa sangat sedikit pakar yang benar-benar khawatir tentang senjata nuklir bakal disalahgunakan oleh AI.

Menurutnya, meski AI dapat memperbesar risiko terkait ancaman eksistensial seperti perang nuklir, risiko material sebenarnya tetap ada pada senjata itu, bukan pada skenario masa depan yang dibayangkan.

Namun demikian, menurut Soares, detail mengenai bagaimana kepunahan berbasis komputer itu bekerja bukanlah poin utamanya. Jika, atau ketika, sebuah AI mencapai recursive self-improvement, mereka berargumen bahwa sistem tersebut akan menciptakan strategi dan metode di luar jangkauan imajinasi manusia.

"Kekhawatiran di sini bukan seperti bagaimana jika AI mengambil alih senjata nuklir kita. Kekhawatiran di sini adalah jenis AI yang tidak perlu mengambil senjata nuklir kita, jenis AI yang dapat memulai dan hampir bukan siapa-siapa dan berakhir dengan senjata nuklirnya sendiri atau bahkan teknologi yang lebih canggih," jelas Soares.

Kematian tanpa detail

Menurut Soares, entitas AI dengan kekuatan besar bahkan tidak perlu berbuat jahat secara sengaja untuk menghancurkan umat manusia.

"Jika Ai yang lepas kendali memiliki tujuan apa pun yang dapat dicapai lebih baik dengan menjalankan lebih banyak komputer, dan jika mereka tidak peduli pada kita serta tidak memiliki alasan untuk membangun habitat manusia yang aman, hasil yang secara otomatis terjadi adalah mereka akan mengubah dunia ke kondisi yang tidak bisa kita tinggali," katanya.

Xing mengatakan bahwa mengatasnamakan kekuatan kecerdasan buatan super yang tidak terduga adalah bentuk penyederhanaan ancaman yang sering digunakan para peneliti AI.

"Itu tidak masalah untuk percakapan santai atau debat, tetapi terkait kebijakan atau regulasi dan hukum, kita harus menetapkan bukti fisik, konsekuensi yang dapat diukur, dan bukti terukur yang memiliki pijakan kuat," jelas Xing.

Larsen mencoba memberikan beberapa detail pada skenario kiamat melalui dua laporan, "AI 2027" dan "AI 2040," yang memproyeksikan gambaran masa depan pengembangan AI di bawah kerangka kerja pengembangan dan regulasi yang berbeda.

Namun, bahkan skenario paling optimistis sekalipun, di mana ada kesepakatan global tentang cara pendekatan pengembangan AI dan manusia telah mulai mengonstruksi koloni di luar angkasa, tetap berakhir dengan pikiran mesin yang mengambil alih pada titik tertentu.

Ketika ditanya apakah ia memiliki keraguan tentang prediksinya bahwa jalur saat ini akan mengarah pada kecerdasan super, Larsen berkata, "Ini akan terjadi. Ini akan terjadi kecuali kita mengambil langkah sengaja untuk menghentikannya."

(dmi)

HALAMAN:
1 2