Studi: El Nino Tahun Ini Bisa Pecah Rekor, Bumi Siap 'Terpanggang'
El Nino tahun ini diperkirakan semakin menguat dan berpotensi menjadi yang terbesar dalam setidaknya 1.000 tahun. Tambahan panas dari fenomena ini, di tengah pemanasan global akibat aktivitas manusia, diperkirakan mendorong 2027 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.
Anomali suhu di Samudra Pasifik telah melampaui rekor, beberapa bulan sebelum fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya.
Anomali suhu di wilayah itu mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, melewati rekor 3,02 derajat Celsius pada akhir November 2015.
Sebagai catatan, angka tersebut menggambarkan selisih suhu di wilayah pemantauan El Nino terhadap rata-rata acuannya, bukan kenaikan suhu rata-rata seluruh Bumi.
Sementara itu, ukuran lain yang banyak digunakan ahli meteorologi, yakni ONI di wilayah Niño 3.4, hanya terpaut 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015.
Ukuran ini menggunakan rata-rata acuan 30 tahun yang diperbarui secara berkala untuk memperhitungkan pemanasan global akibat aktivitas manusia. Kedua pengukuran tersebut bersandar pada data Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA).
Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model yang rata-rata memproyeksikan anomali suhu mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember.
Sebagai perbandingan, El Nino dengan anomali di atas 2 derajat Celsius sudah masuk kategori sangat kuat, yang kerap disebut "super El Nino".
Hausfather, yang analisisnya diterbitkan Carbon Brief, menyebut proyeksi penguatan tersebut mencengangkan.
Menurutnya, analisis terumbu karang, lingkaran pertumbuhan pohon, dan dokumen sejarah mengindikasikan belum ada El Nino yang mencapai tingkat tersebut dalam satu milenium terakhir.
Penguatan ini disebut membawa ancaman bagi Indonesia. Pasalnya, kondisi panas dan kering telah memicu kebakaran yang memecahkan rekor serta polusi udara pada tingkat mematikan.
Dampak terhadap pangan juga menjadi perhatian untuk sejumlah wilayah. Di India, hujan monsun yang penting bagi pertanian berkurang, sementara kekeringan di Amerika Tengah dan Karibia menyebabkan gagal panen.
Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan pada Agustus bahwa dampak El Nino berpotensi mendorong sekitar 50 juta orang mengalami kelaparan akut dan meningkatkan harga pangan.
Profesor Friederike Otto dari Imperial College London menjelaskan, fenomena ini menyebabkan redistribusi energi dalam jumlah besar di dalam sistem iklim yang sudah semakin hangat akibat aktivitas manusia.
"Di banyak tempat di dunia, kita akan menyaksikan panas ekstrem yang belum pernah dialami sebelumnya, dengan segala konsekuensinya terhadap kesehatan, ketahanan pangan, dan tekanan terhadap ketersediaan air," kata Otto, dikutip dari The Guardian, Rabu (23/9).
Ancaman El Nino mencakup hujan lebat dan banjir di sejumlah kawasan, seperti yang telah dialami Peru dan Chile.
Kawasan Tanduk Afrika rentan terhadap peningkatan hujan lebat, sedangkan Australia dan Afrika bagian selatan diperkirakan menghadapi musim panas yang lebih panas dan kering, sehingga meningkatkan risiko kebakaran serta kekeringan.
Para ilmuwan mengkhawatirkan perubahan iklim dapat mengubah pola dampak El Nino yang selama ini dikenal, membuat negara dan masyarakat lebih sulit mempersiapkan diri.
Otto mengingatkan bahwa El Nino datang dan pergi, tetapi pembakaran bahan bakar fosil membuat fenomena itu berlangsung pada suhu dasar Bumi yang terus meningkat.
"El Nino datang dan pergi, tetapi selama kita terus membakar bahan bakar fosil, fenomena ini terjadi pada suhu dasar yang semakin panas, sehingga masyarakat jauh lebih sulit menghadapi konsekuensinya," ujarnya.
(lom)