Sempat Runtuh 2018, Gunung Anak Krakatau Kini Tumbuh Lagi
Pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa Gunung Anak Krakatau kini sedang kembali membangun tubuhnya, setelah sebagian tubuh gunung tersebut runtuh ke laut pada Desember 2018. Aktivitas erupsi yang berlangsung setelah peristiwa tahun 2018 itu secara bertahap kembali membangun tubuh gunung tersebut.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani menjelaskan, gunung api merupakan sistem yang dinamis. Sejak muncul dari dasar laut pada akhir 1920-an, tubuh Anak Krakatau berkembang lewat siklus panjang pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali.
"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada. 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," kata Dini, melansir laman resmi BRIN, Senin (21/9).
Dini menjelaskan, Gunung Anak Krakatau mengalami perubahan besar kertika erupsi yang terjadi pada 22 Desember 2018. Sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik.
Peristiwa tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncak dari sekitar 300 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.
Menurut Dini, sistem erupsi gunung ini juga berubah usai peristiwa tersebut. Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba mengurangi tekanan pada saluran magma, sementara air laut masuk ke kawah yang terbuka.
Kondisi ini menyebabkan aktivitas berubah cepat dari erupsi Strombolian menjadi Surtseyan yang lebih eksplosif. Interaksi kembali antara magma dan air laut juga membentuk ulang morfologi kawah Anak Krakatau.
"Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya," jelas Dini.
Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.
Material yang dihasilkan dari aktivitas tersebut secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps. Salah satu proses pertumbuhan terlihat dari pembentukan lava pada 2020 yang menumpuk di atas material hasil aktivitas seluruh runtuhan.
"Setelah kolaps, Anak Krakatau memasuki fase pembangunan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju Strombolian, lava fountain dan aliran lava, yang secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps," ujarnya.
Pertumbuhan tak simetris
Hasil penelitian mencatat bahwa pertumbuhan Anak Krakatau tidak berlangsung secara simetris. Dini menjelaskan bahwa gunung ini berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan tingkat kemiringan yang berbeda pada setiap sisinya.
Sektor barat daya berkembang di atas lereng kaldera yang lebih curam, sementara bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal. Perbedaan kondisi dasar ini menyebabkan kedua sektor memiliki karakter kestabilan berbeda.
Tubuh Anak Krakatau juga tersusun dari material dengan sifat fisik berbeda. Pada fase awal pertumbuhan, interaksi magma dengan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif lebih ringan dan berpori. Setelah sekitar 1960, saat aktivitas lebih didominasi erupsi Strombolian-Vulcanian, lava yang lebih padat mulai menumpuk di atas endapan tuf.
Penumpukan lava yang lebih berat di atas material yang lebih ringan, ditambah posisi sektor barat daya di atas lereng kaldera yang curam, secara bertahap meningkatkan beban tubuh gunung dan berkaitan dengan ketidakstabilan lereng. Menurut Dini, kondisi ini menjadi bagian penting dalam memahami evolusi morfologi Anak Krakatau.
(dmi)