Daftar Fenomena Langit Oktober 2026, Catat Tanggalnya

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 07:15 WIB
Oktober 2026 akan dipenuhi fenomena langit menarik, dari oposisi Saturnus hingga hujan meteor. (Foto: REUTERS/ANTONIO BRONIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah fenomena akan menghiasi langit sepanjang bulan Oktober, mulai dari oposisi Saturnus hingga hujan meteor. Simak daftar lengkapnya.

Beberapa fenomena tersebut dapat dinikmati dengan mata telanjang, tetapi beberapa yang lain memerlukan alat bantu seperti teropong atau teleskop untuk menikmatinya.

Selain itu, pengamat juga perlu memastikan langit malam sedang cerah tak tertutup awan atau bahkan hujan, serta jauh dari polusi cahaya perkotaan.

Dikutip dari Seasky dan Time and Date, berikut daftar lengkap jadwal fenomena langit Oktober 2026.

Oposisi Saturnus

Saturnus akan berada dalam posisi yang berlawanan dengan Bumi dan Matahari pada 4 Oktober, sehingga permukaannya akan sepenuhnya diterangi Matahari.

Di posisi tersebut, planet bercincin ini juga akan berada dalam jarak terdekatnya dengan Bumi dan tampak lebih terang daripada hari lainnya sepanjang tahun.

Pada malam itu, Saturnus akan terlihat dari Matahari tenggelam sampai terbit kembali. Pengamat dapat menggunakan teleskop atau kamera tele untuk melihat cincin Saturnus dan beberapa bulannya yang paling terang, sedangkan yang melihat dengan mata telanjang akan melihatnya seperti bintang biasa.

Hujan meteor Draconid

Pada 6-10 Oktober, langit malam akan dihiasi pemandangan hujan meteor Draconid yang terjadi akibat butiran debu komet 21P Giacobini-Zinner yang menghasilkan sekitar 10 meteor per jam.

Waktu terbaik untuk melihat fenomena hujan meteor Draconid tahun ini akan terjadi sebelum fase Bulan Baru, ketika langit gelap tanpa cahaya bulan pada tanggal 7 Oktober mendatang.

Berbeda dengan fenomena hujan meteor lain yang waktu terbaik untuk mengamatinya di pagi hari, waktu terbaik melihat hujan meteor ini adalah pada awal malam hari di lokasi yang gelap dan jauh dari lampu kota.

Bulan baru

Pada 10 Oktober, Bulan akan berada di sisi Bumi yang sama dengan Matahari dan tidak akan terlihat di langit malam. Ini berarti tidak ada cahaya Bulan yang menghalangi pandangan terhadap bintang dan planet.

Fase Bulan baru menjadi waktu terbaik untuk mengamati objek-objek redup seperti galaksi dan gugusan bintang karena tidak ada cahaya bulan yang mengganggu.

Merkurius pada elongasi
Planet Merkurius akan mencapai elongasi timur terbesar sebesar 19,6 derajat dari Matahari pada tanggal 12 Oktober. Ini adalah waktu terbaik untuk mengamati Merkurius karena akan berada pada titik tertinggi di atas cakrawala di langit malam. Posisinya ada di bagian bawah langit barat setelah Matahari terbenam.

Hujan meteor Orionid

Selain hujan meteor Draconid, langit juga akan dihiasi hujan meteor Orinoid pada sekitar tanggal 21-22 Oktober. Hujan meteor ini dihasilkan butiran debu Komet Halley yang telah lama dikenal dan diamati sejak zaman kuno.

Hujan meteor Orionid memancar dari konstelasi bintang Orion dan berlangsung dari tanggal 2 Oktober hingga 7 November. Pada puncaknya, hujan meteor ini bisa menghasilkan rata-rata 20 meteor per jam.

Namun, kecerahan Bulan sabit yang membesar dapat mengurangi jumlah meteor Orionoid yang dapat dilihat pada tahun ini. Meski demikian, Bulan akan terbenam pada tengah malam, sehingga langit kembali gelap dan pengamat dapat kembali menikmati pemandangan indahnya.

[Gambas:Video CNN]

Bulan purnama

Bulan purnama Oktober akan terjadi pada tanggal 26 Oktober. Bulan akan berada di sisi berlawanan Bumi dari Matahari dan permukaannya sepenuhnya diterangi.

Bulan purnama Oktober sering disebut sebagai Bulan Pemburu karena dulu suku-suku asli Amerika memanfaatkan waktu ini untuk berburu hewan. Selain itu, purnama ini juga kerap disebut Padi Kering, Bulan Darah, atau Bulan Sanguin.

(lom)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK