Gletser Swiss Hilang 20 Persen dalam 5 Tahun Imbas Krisis Iklim

CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 08:45 WIB
Matthias Huss, glaciologist at ETH Zurich and Head of the GLAMOS, works at the Gries glacier with colleague Lander van Tricht on a warm summer day, amid climate change, in Obergoms, Switzerland September 11, 2025.  REUTERS/Denis Balibouse
Swiss kehilangan hampir 20 persen gletsernya dalam lima tahun akibat krisis iklim. (Foto: REUTERS/Denis Balibouse)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para peneliti mengungkap Swiss kehilangan hampir seperlima esnya hanya dalam lima tahun terakhir imbas krisis iklim, mengubah gletser putih besar menjadi gurun batu mirip Bulan.

Menurut laporan pemantauan tahunan, gletser Swiss menyusut sebesar 5,5 persen pada delapan bulan pertama tahun 2026 akibat dilanda gelombang panas terik pada musim panas dan salju yang semakin sedikit pada musim dingin.

Penyusutan volume es tahun ini disebut hampir sama dengan rekor penyusutan es pada 2022. Dalam lima tahun terakhir, total penyusutan es gletser sejak tahun 2021 diketahui sebesar 19,4 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Matthias Huss, seorang ahli gletser di ETH Zürich yang juga penulis utama penelitian tersebut mengatakan banyak orang tidak menyadari seberapa cepat gletser menyusut. Menurut pengamatannya, beberapa lokasi yang sekarang tandus dulunya berada di bawah lapisan es setebal ratusan meter.

"Saya mengunjungi salah satunya minggu lalu dan sangat berkesan untuk berdiri di lahan seperti Bulan ini, yang pernah berada di bawah lapisan es yang tebal dan luas, hanya beberapa tahun lalu," kata Huss, dikutip dari The Guardian, Kamis (1/10).

Ia mengatakan saat ini lokasi tersebut telah menjadi gurun batu di mana masih ada beberapa bongkahan es tua yang tersebar dan terus mencair di atas bebatuan panas.

Para peneliti belum menyusun penghitungan resmi penyusutan gletser tahun ini, tetapi mereka mengatakan sejumlah gletser kecil telah menghilang.

Penelitian terbaru ini merupakan kolaborasi antara Swiss Glacier Monitoring Network dan Swiss Commission for Cryosphere Observation. Para peneliti menemukan bahwa ketebalan rata-rata gletser turun antara 2,5-4 meter pada tahun ini.

Mereka mengatakan semakin sering melihat gletser runtuh dari dalam akibat aliran internal di bawah es yang membentuk gua, daripada hanya sekadar menyusut di permukaan karena panas Matahari.

"Ada lubang-lubang besar di tengah es yang atapnya runtuh, seperti keju. Ini adalah proses yang merusak gletser dan membuatnya menyusut lebih cepat," kata Huss.

Wilayah Alpen mengalami perubahan paling dramatis di tengah peningkatan suhu yang diketahui meningkat dua kali lebih cepat di Eropa jika dibandingkan rata-rata global akibat efek pemerangkapan panas dari polusi bahan bakar fosil dan kerusakan alam.

Penelitian yang diterbitkan di MeteoSwiss pada Selasa (29/9) tersebut menemukan bahwa setengah tahun musim panas dari April hingga September adalah yang terpanas dan terkering sejak pencatatan dimulai pada 1864.

Dalam kurun waktu tersebut, umat manusia telah menghasilkan 1,8 triliun ton emisi karbon dioksida yang menumpuk di atmosfer dan membuat planet ini mengalami pemanasan sekitar 1,4 derajat Celcius.

(fta/lom)
placeholder