Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana membentuk sebuah lembaga yang bakal mengoordinasikan kebijakan kecerdasan buatan (AI) di Gedung Putih.
Bahkan, saat ini Trump sudah memilih Jay Clayton sebagai calon kepala lembaga tersebut. Jay sebelumnya merupakan Direktur Intelijen Nasional di bawah pemerintahan Trump.
Melansir CNN, Jumat (2/10), dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan Trump dapat mengumumkan penunjukan Clayton paling cepat pada Jumat waktu setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Clayton diperkirakan tetap menjalankan tugasnya sebagai Direktur Intelijen Nasional sembari mengemban peran baru sebagai "AI czar". Sebelumnya, Trump mengatakan kepada Axios bahwa Clayton akan cocok untuk posisi tersebut, namun Gedung Putih belum mengonfirmasi penunjukan itu.
"Setiap pengumuman mengenai personel akan diumumkan langsung oleh Presiden. Setiap pemberitaan sampai saat itu adalah spekulasi yang tidak berdasar," kata seorang pejabat Gedung Putih kepada CNN, Jumat (2/10).
Trump sebelumnya mengumumkan rencana membentuk "AI Force" dan menunjuk seorang pejabat untuk memimpin kebijakan pemerintah terkait AI. Rencana tersebut muncul di tengah meningkatnya desakan agar pemerintah menetapkan batasan terhadap perkembangan teknologi AI.
Pada Selasa (29/9), Trump mengumpulkan sejumlah CEO perusahaan teknologi dan AI di Gedung Putih. Pertemuan tersebut berujung pada penandatanganan komitmen baru yang bertujuan mendorong perusahaan melakukan pengawasan mandiri terhadap model AI mereka.
Trump juga mengatakan saat itu bahwa dirinya "sangat dekat" untuk mengambil keputusan mengenai sosok yang akan mengisi posisi tersebut.
"Saya akan menunjuknya, saya kira, dalam tiga atau empat hari ke depan," kata Trump.
Dia mengatakan masih ingin berkonsultasi dengan perusahaan-perusahaan teknologi serta pimpinan Partai Republik di DPR AS sebelum menentukan pilihannya.
Rekam Jejak Clayton
Clayton sebelumnya menjabat sebagai jaksa federal tertinggi di Manhattan. Dia kemudian memimpin Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) selama sebagian besar periode pertama pemerintahan Trump.
Senat AS mengonfirmasi Clayton sebagai Direktur Intelijen Nasional pada Juli 2026. Dia menggantikan Bill Pulte yang sebelumnya menjabat sebagai pelaksana tugas direktur selama sekitar 40 hari.
Dalam uji kelayakan dan kepatutan di Senat sebelum pengangkatannya sebagai kepala komunitas intelijen AS, Clayton menyebut AI sebagai teknologi yang membawa peluang sekaligus ancaman.
"Ini adalah pengubah permainan, ini bukan hanya sebuah peluang, tetapi juga ancaman." kata Clayton.
"Ketika sesuatu merupakan peluang sekaligus ancaman, Anda harus benar-benar memahaminya," lanjutnya.
Jika ditunjuk, Clayton akan menjadi orang kedua yang mengemban peran tersebut. Sebelumnya, investor modal ventura David Sacks menjadi pejabat AI dan kripto Trump hingga Maret 2026.
Sacks mundur setelah masa tugasnya sebagai pegawai khusus pemerintah berakhir. Dia kini tetap memiliki pengaruh dalam kebijakan AI Trump dan menjabat sebagai wakil ketua Dewan Penasihat Presiden untuk Sains dan Teknologi.
Trump sebelumnya menyatakan ingin mengejar ketertinggalan dari China dalam pengembangan AI serta mempertahankan keuntungan ekonomi yang dihasilkan teknologi tersebut. Pada saat yang sama, pemerintah AS menghadapi desakan untuk memperkuat pengawasan terhadap perkembangan AI.

