Super El Nino 2027, Ahli Ingatkan Dampaknya Buat Indonesia

CNN Indonesia
Rabu, 07 Okt 2026 12:50 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Para peneliti memprediksi El Niño tahun ini akan menjadi salah satu yang terkuat sepanjang sejarah. Kondisi kering dan kemarau berkepanjangan di sebagian wilayah Indonesia dapat berdampak pada meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga krisis pangan.

Mark Merrifield dari Scripps Institution of Oceanography menyampaikan anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa tahun ini menunjukkan sinyal kuat menuju fase Super El Niño.

"Untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui rekor El Niño sebelumnya sejak tahun 1950-an," kata Mark.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indeks Niño 3.4 sebagai indikator utama untuk mengukur kekuatan El Niño menunjukkan tingkat anomali suhu permukaan laut saat ini sebesar positif 0,5 derajat Celcius dan diperkirakan menembus rata-rata positif 3,0 derajat Celcius hingga Februari 2027.

Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Erma Yulihastin menyebut kajiannya bersama tim menyoroti risiko produksi padi dan tekanan panas lingkungan. Kondisi ini menunjukkan perlunya kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak.

Selain itu, hasil pengukuran menggunakan indeks suhu bola basah atau Wet Bulb Global Temperature (WGBT) juga menunjukkan wilayah Kalimantan dan Papua sangat rentan terhadap panas serta potensi kebakaran hutan.

Berdasarkan hasil simulasi dan analisis dari 14 model iklim NASA NEX-GDPP, Erma menyebut ancaman kekeringan akibat El Niño diproyeksikan masih berlanjut hingga periode 2027-2028.

Berdampak ke inflasi

Kemunculan El Nino kategori kuat ini tak cuma berdampak pada suhu yang meningkat dan menyebabkan cuaca kian panas. Dari sisi ekonomi, fenomena ini diperkirakan bisa menimbulkan gejolak inflasi.

Djoko Santoso Abi Suroso dan Isnan Fauzi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) membandingkan dampak El Niño terhadap inflasi bergejolak. Hasilnya, mereka menemukan potensi risiko El Niño yang dapat berujung pada kenaikan harga pangan.

"Jika Super El Niño ini benar terjadi hingga awal 2027, maka terdapat potensi pergeseran jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027, sehingga jadwal panen akan terancam dan merambat menjadi persoalan pasokan dan kenaikan harga pangan, khususnya beras," tulis Abi Suroso dan Fauzi di The Conversation.

Berdasarkan perbandingan dampak El Niño terhadap harga beras rata-rata per tahun, dengan mengambil sampel El Niño 2015-2016 dan 2023-2024, mereka menyimpulkan penurunan produktivitas lahan pertanian akan menekan produksi padi yang akhirnya mengerek naik harga beras di pasaran.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut inflasi Agustus 2026 secara bulanan sebesar 0,21 persen disumbang oleh kenaikan harga komoditas pangan seperti daging ayam, ikan, cabai, bawang, dan tentunya beras.

Hasil studi Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota ITB serta Manajer Riset dan Proyek di Pusat Perubahan Iklim ITB juga menemukan fakta bahwa setiap kali indeks Niño3.4 memuncak, inflasi bergejolak ikut naik dalam rentang waktu yang berdekatan.

Semakin kuat El Niño, semakin jelas pula pola ini terlihat.

"Pola ini konsisten dengan riset internasional yang menemukan bahwa guncangan ENSO dapat menekan pertumbuhan ekonomi negara berkembang hingga 2 persen, dengan dampak yang dua kali lebih besar di kawasan tropis seperti Indonesia," jelas mereka.

Semakin memburuk

Dampak El Niño terhadap inflasi dari tahun ke tahun semakin memburuk, misalnya El Niño 2023-2024 yang terjadi bertepatan dengan guncangan pasokan global, sementara neraca beras yang mulai mengalami defisit pada Juli-September 2023.

Pada saat itu, India sebagai pengekspor beras terbesar dunia melarang ekspor beras nonbasmati untuk menjaga stok dan harga dalam negerinya sendiri, akibatnya, Indonesia dan negara lain yang harus mengimpor beras harus berebut pasokan dari sumber yang lebih terbatas dan otomatis lebih mahal.

Pada 2023 Indonesia mengimpor 3,06 juta ton beras, dan pada 2024 mengimpor 4,52 juta ton. Angka tersebut lebih tinggi tiga hingga lima kali lipat dibanding 2015 (861 ribu ton) dan 2016 (1,28 juta ton).

Menghadapi risiko El Niño yang semakin parah pada tahun ini, disertai kemungkinan keterlambatan hujan dari jadwal biasanya, peneliti menilai perlu kebijakan untuk menjaga kestabilan pasokan.

"Ada kemungkinan hujan akan datang lebih lambat dari jadwal biasanya. Imbasnya, musim tanam ikut mundur, dan panen raya yang biasanya jatuh Maret-April berisiko tergeser ke April-Mei. Secara historis, ini merupakan periode paling rentan terhadap lonjakan harga pangan," tulis mereka.

(fta/dmi)