Biznet Bicara Internet Cepat: Masyarakat Cari yang Termurah
Perusahaan penyedia layanan internet (ISP) Biznet menyebut pertimbangan pemilihan paket internet masyarakat Indonesia masih berlandaskan harga, bukan kebutuhan bandwith atau kecepatan internet.
Senior Manager Marketing Biznet Adrianto Sulistyo mengatakan kurangnya kesadaran terkait kebutuhan bandwith yang memadai merupakan salah satu kendala dalam melakukan ekspansi dan digitalisasi yang merata di seluruh wilayah.
Lihat Juga : |
Adrianto mengatakan perusahaannya telah menyediakan layanan internet dengan opsi kecepatan yang cukup memadai untuk berbagai kebutuhan, tetapi pengguna Indonesia masih lebih memprioritaskan harga dibanding bandwidth.
"Sekarang masyarakat Indonesia masih cari mana yang paling murah, bukan bandwidthnya yang dipilih. Jadi, kalau dilihat, kayaknya kesadaran tentang kebutuhan bandwidth masih kurang," katanya pada acara Media Gathering Biznet 26th Anniversary di Jakarta, Rabu (7/10).
Meski demikian, ia memandang kebutuhan internet dengan bandwidth yang lebih cepat pada akhirnya pasti akan meningkat seiring perkembangan dan intensitas penggunaan teknologi dan gadget yang digunakan dalam beberapa tahun ke depan.
"Tahun ini banyak sekali kami melihat developer-developer rumah baru ataupun rumah-rumah yang sekarang itu sudah mulai smarthome, dan otomatis pemilihan bandwidth-nya sudah enggak bisa yang lebih kecil," jelasnya.
Sebagai contoh, Adrianto menyebut penggunaan smart CCTV yang dapat langsung terhubung melalui jaringan internet untuk pemantauan jarak jauh pasti membutuhkan jaringan internet dengan kualitas kecepatan yang memadai agar koneksinya stabil dan video yang ditampilkan berkualitas.
"Karena sekarang enggak hanya di tempat usaha, di rumah aja udah pakai CCTV. CCTV-nya bisa ngobrol tuh, ibunya yang di kantor sama anaknya yang di rumah pakai CCTV ngobrolnya," ungkapnya.
Dalam hal ini, Biznet melihat adanya kebutuhan bandwidth yang memadai agar perangkat-perangkat seperti CCTV atau teknologi lain yang digunakan dapat saling terhubung dan terintegrasi satu sama lain, sehingga penggunaannya dapat dioptimalkan.
Selain itu, Adrianto juga menjelaskan mengenai teknologi mesh Wi-Fi yang dapat memperluas area jangkauan internet bagi pengguna, tanpa menambah SSID atau menggunakan jaringan Wi-Fi lain secara terpisah.
"Mungkin 5 tahun lalu kita masih bicara wifi extender, tapi kalau sekarang itu teknologi udah mesh wifi, di mana pindah antara satu lantai ke lantai berikutnya atau mungkin ke area lainnya sudah seamless," jelasnya.
Kembangkan infrastruktur
Memasuki usia 26 tahun, Biznet berupaya menjawab kebutuhan terhadap infrastruktur digital yang semakin tinggi, di antaranya dengan mengoperasikan AI-Ready Data Center dan juga jaringan kabel fiber optic bawah laut Biznet Nusantara Cable System (BNCS).
Kehadiran AI-Ready Data Center milik Biznet ini diharapkan dapat menjadi solusi dan fondasi untuk menghadapi kesiapan era digital berbasis kecerdasan buatan, sehingga pelanggan bisa memaksimalkan produktivitasnya.
Biznet juga terus memperkuat konektivitas antar pulau melalui Biznet Nusantara Cable System (BNCS), jaringan kabel fiber optic bawah laut yang telah dioperasikan sejak 2024.
Biznet saat ini juga sedang melakukan persiapan pembangunan jaringan kabel laut yang baru, Biznet Nusantara Cable System-2 (BNCS-2) yang akan menghubungkan Pulau Jawa (Surabaya) - Pulau Kalimantan (Banjarmasin) - Pulau Madura (Sumenep) dan Pulau Bali (Buleleng).
Pembangunan infrastruktur ini juga dibarengi dengan perluasan jaringan yang terus Biznet lakukan ke lebih banyak wilayah di Indonesia untuk menghadirkan konektivitas dengan bandwidth yang semakin besar dan harga yang lebih terjangkau.
Saat ini, jaringan Biznet telah menjangkau lebih dari 200 kota/kabupaten di Pulau Jawa, Bali, Sumatra, Bangka, Batam, Kalimantan, Sulawesi dan Flores, dengan lebih dari 3 juta homepass serta didukung lebih dari 300 kantor cabang.
(fta/lom)