Kura-kura Jonathan Bisa Hidup Hampir Dua Abad, Apa Rahasianya?
Sebuah studi menemukan alasan seekor kura-kura raksasa bernama Jonathan bisa hidup lama, dengan usia yang diperkirakan mencapai 194 tahun. Mengapa ia dapat bertahan hidup hampir dua abad?
Jurnal Science Advances bertajuk "Epigenetic Insights into extreme longevity in the world's oldest terrestrial animal, Jonathan" yang diterbitkan pada Rabu (7/10),menyingkap rahasia umur kura-kura Jonathan hampir mencapai dua abad bukan hanya karena memiliki genetik yang baik, namun minimnya kerusakan genetik yang dialaminya seiring bertambahnya usia.
Para ilmuwan yang terlibat dalam studi tersebut mengidentifikasi 287 varian gen unik pada kura-kura Jonathan. Varian gen ini membantu mengurangi dampak penuaan yang biasanya terjadi.
Gen-gen tersebut mengendalikan sejumlah proses penting dalam tubuh Jonathan, termasuk memperbaiki kerusakan DNA, mengurangi peradangan, mengatur insulin, dan menekan perkembangan kanker.
"Kami menemukan bahwa pengatur gen yang terlibat dalam produksi energi dan perbaikan DNA tetap sangat stabil pada Jonathan selama hampir dua abad," kata Justin Gerlach, salah satu peneliti dalam jurnal Science Advances, dikutip laman Universitas Cambridge, Rabu (7/10).
Jonathan merupakan kura-kura raksasa Aldabra (Adlabrachelys gigantea) yang diperkirakan berusia 194 tahun. Ia disebut sebagai kura-kura raksasa tertua yang masih hidup, sekaligus hewan darat tertua di dunia saat ini.
Para peneliti memperkirakan Jonathan menetas pada 1832, sehingga hidup pada zaman yang sama dengan Charles Darwin dan Ratu Victoria.
Jonathan telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Pulau St. Helena, wilayah seberang laut Inggris di Samudra Atlantik Selatan.
Jonathan tinggal di kawasan Plantation House, yaitu kediaman gubernur St. Helena. Ia tiba di Pulau Seychelles sejak 144 tahun lalu dalam kondisi sudah dewasa dan diberikan sebagai hadiah kepada gubernur.
Para peneliti menilai kura-kura raksasa yang hidup di Kepulauan Galapagos dan Seychelles merupakan kelompok penyintas dari jenis hewan yang dahulu mendominasi ekosistem di banyak pulau dunia.
Lebih lanjut, tim peneliti juga membandingkan epigenom Jonathan dengan kura-kura raksasa lain dari spesies yang lebih muda, namun berusia lebih muda. Epigenom merupakan mekanisme yang berfungsi sebagai sakelar untuk mengaktifkan atau menonaktifkan gen.
Hasil perbandingan menemukan bahwa sakelar yang mengendalikan gen perbaikan DNA dan metabolisme Jonathan sangat mirip dengan yang dimiliki oleh kerabatnya yang lebih muda. Padahal, epigenom biasanya mengalami perubahan seiring waktu dan turut berkontribusi terhadap proses penuaan.
Menurut para peneliti, perubahan ini menjadi salah satu alasan utama berbagai fungsi tubuh mulai mengalami gangguan ketika seseorang atau hewan bertambah tua.
Studi ini menjadi penelitian pertama yang menyelidiki epigenom kura-kura raksasa dan dipimpin oleh para peneliti dari Kallel, organisasi nirbala di Amerika Serikat yang berfokus pada riset umur panjang.
Para peneliti mengatakan bahwa mengungkap kode genetik yang dapat hidup selama beberapa abad memberikan wawasan yang belum pernah ada sebelumnya tentang kemampuan suatu organisme untuk bertahan hidup dalam waktu yang sangat lama.
"Kami menemukan bahwa pengatur gen yang terlibat dalam produksi energi dan perbaikan DNA tetap sangat stabil pada Jonathan selama hampir dua abad," kata Gerlach.
Menurut Gerlach, kura-kura raksasa dari Kepulauan Galapagos dan Seychelles menyimpan banyak informasi penting untuk memahami proses penuaan. Ia menganggap kesempatan meneliti Jonathan sebagai pengalaman istimewa.
"Bekerja dengan kura-kura raksasa yang benar-benar sudah sangat tua merupakan sebuah keistimewaan. Kita bisa merasakan bahwa kura-kura tersebut adalah rekan dalam penelitian, bukan sekadar objek yang diteliti," ungkap Gerlach.
Sementara itu, Stephen Clark selaku penulis senior dalam penelitian tersebut dan pendiri Kallel menyatakan bahwa genom Jonathan memberikan gambaran mengenai mekanisme yang membuat sel mampu bertahan menghadapi kerusakan.
Clark menyebut, pihaknya berupaya mengembangkan pengobatan yang praktis dan terjangkau bagi masyarakat dengan memanfaatkan penelitian evolusi tersebut. Upaya ini dinilai penting mengingat penuaan merupakan faktor risiko terbesar bagi hampir semua penyakit kronis.
"Tujuan kami adalah menerjemahkan temuan evolusi ini menjadi pengobatan yang praktis dan terjangkau bagi masyarakat luas sesegera mungkin. Penuaan merupakan faktor risiko terbesar bagi hampir semua penyakit kronis yang kita hadapi. Melalui dukungan para mitra filantropi, kami dapat memperluas akses masyarakat terhadap pengobatan untuk memperpanjang usia sehat," kata dia.
(nad/dmi)