Harga HP Makin Mahal, Krisis Memori Bikin Pengguna Tunda Ganti
Survei terbaru dari Counterpoint Research menyebut harga HP semakin mahal akibat krisis memori pada kuartal ketiga 2026. Kenaikan harga ini dinilai turut berpengaruh terhadap perilaku konsumen.
Analis Senior Counterpoint Research Shilpi Jain menyebut kelangkaan memori yang ekstrem mendorong pasar smartphone ke fase yang lebih selektif yang membentuk kembali strategi produsen smartphone dan perilaku konsumen.
Jain turut menjelaskan perilaku konsumen yang dimaksud ialah mempertahankan HP mereka lebih lama dan enggan membeli yang baru. Menurutnya, konsumen semakin mempertimbangkan untuk membeli perangkat refurbished dan memprioritaskan perangkat dengan nilai lebih tinggi.
"Konsumen mempertahankan perangkat mereka lebih lama dari perkiraan, semakin mempertimbangkan perangkat refurbished dan memprioritaskan perangkat dengan nilai lebih tinggi," kata Analis Senior Counterpoint Research Shilpi Jain dalam keterangannya, Senin (12/10).
Di sisi lain, Jain menyebut produsen smartphone menyesuaikan portofolio, harga dan stretragi pasar untuk melindungi profitabilitas.
Meski demikian, permintaan perangkat premium tetap relatif kuat, namun semakin menekan pasar segmen menengah ke bawah. Kondisi ini disebut memperlebar kesenjangan antara konsumen kelas premium dan konsumen yang sensitif terhadap harga.
"Hal ini semakin menekan pasar segmen menengah ke bawah, sementara permintaan di segmen premium relatif tetap kuat. Kondisi ini memperlebar kesenjangan antara konsumen kelas premium dan konsumen yang sensitif terhadap harga," imbuh Jain.
Riset turut menemukan pengiriman smartphone global mengalami penurunan hingga 20 persen year-on-year (YoY) pada kuartal ketiga 2026. Angka ini disebut terendah dalam 14 tahun.
Penurunan ini masih dipengaruhi oleh kelangkaan memori, akibatnya harga DRAM dan NAND melonjak serta meningkatkan biaya komponen smartphone, sekaligus berdampak pada berkurangnya pasokan.
Sebagai respons, para produsen meneruskan biaya komponen yang lebih tinggi kepada konsumen. Kondisi ini mendorong kenaikan harga ritel smartphone sebesar 20 persen serta meningkatkan harga jual rata-rata (ASP) pasar hingga saat ini pada tahun 2026.
Counterpoint menilai kenaikan harga membuat sejumlah model smartphone murah keluar dari rentang harga utama yang diminati konsumen. Keterbatasan stok juga menyebabkan produsen smarpthone membatasi pengiriman.
"Prospek industri ponsel untuk sisa tahun 2026 masih menantang. Di tengah tingginya biaya komponen dan melemahnya daya beli konsumen, produsen ponsel semakin memprioritaskan profitabilitas dibandingkan volume pengiriman," ungkap Counterpoint.
Lebih lanjut, Counterpoint memperkirakan pemangkasan produksi, penyederhanaan lini produk, dan fokus yang lebih besar pada perangkat premium terus berlanjut. Sementara itu, segmen yang sensitif terhadap harga menghadapi tekanan lebih lanjut akibat kenaikan harga perangkat dan terbatasnya ketersediaan komponen.
Riset ini turut mengungkap peringkat lima merek smartphone teratas yang menduduki pasar ponsel global pada kuartal ketiga 2026. Posisi pertama diduduki oleh Samsung dengan pangsa pasar 23 persen.
Posisi ini dipengaruhi oleh permintaan pasar yang kuat terhadap Galaxy Z Fold 8, serta pasokan komponen yang stabil mendukung penjualan seri Galaxy A di segmen menengah pasar negara berkembang.
Meski menduduki peringkat teratas, Samsung turut mengalami penurunan pengiriman perangkat sebesar 3 persen.
Samsung dinilai berfokus pada perangkat dengan harga ASP yang lebih tinggi dan pertumbuhan pendapatan. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan nilai penjualan meski volume pengiriman menurun.
Strategi menyasar segmen premium dan peluncuran ponsel lipat yang sukses turut berkontribusi terhadap kinerja Samsung di pasar smarpthone.
Peringkat kedua diduduki oleh Apple dengan pangsa pasar sebesar 22 persen, meski pengirimannya turun jika dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menandakan pertama kalinya perusahaan tersebut melampaui pangsa pasar 20 persen dalam sejarah.
Penurunan volume pengiriman disebabkan oleh tidak hadirnya iPhone 18 versi standar dalam peluncuran bulanSeptember lalu. Kondisi ini membuat pengisian stok di saluran distribusi selama bulan peluncuran lebih rendah dibandingkan dengan seluruh jajaran iPhone 17 Series yang diluncurkan pada 2025.
Apple juga mengikuti tren industri yang lebih luas dengan meningkatkan harga perangakt, meski dampaknya hanya terbatas pada beberapa minggu terakhir kuartal tersebut.
Di samping itu, iPhone 18 Pro mencatatkan peluncuran yang lebih kuat dibandingkan pendahulunya, terutama di pasar China dan India. Momentum penjualan iPhone 17 Series yang terus berlanjut juga membantu mengimbangi penurunan pengiriman yang lebih besar.
Selanjutnya, peringkat ketiga diduduki oleh Xiaomi dengan pangsa pasar turum menjadi 12 persen pada kuartal ketiga 2026. Perusahaan mengurangi eksposurnya terhadap smartphone harga rendah dan pasar luar negeri.
Xiaomi juga disebut menaikkan harga ASP dan memperketat rencana pengiriman untuk menghindari penjualan perangkat dengan margin keuntungan yang tidak ekonomis di tengah krisis pasokan memori.
Meski demikian, perusahaan memperkuat kehadirannya pada segmen menengah dan premium di China. Hal ini terlihat dari respons positif pasar terhadap Xiaomi 18 Series dan smartphone lipatnya.
Di samping itu, chipset XRING 03 yang dibesut Xiaomi juga semakin mendukung diferensiasi produknya di segmen premium.
Posisi terakhir diduduki oleh Oppo dan Vivo yang mencatatkan penurunan sebesar 20 persen YoY. Pangsa pasar kedua merek tersebut masing-masing turun menjadi 9 persen dan 8 persen.
Kedua merek menaikkan harga di seluruh lini produk HP termurahnya dan menengah sebagai respons terhadap kenaikan biaya memori.
Lihat Juga : |
Oppo mengonsolidasikan portofolio produk dan operasional Oppo, Realme dan OnePlus untuk mengurangi tumpang tindih produk dan meningkatkan efisiensi biaya.
Perusahaan juga memprioritaskan margin keuntungan dengan mengalihkan pasokan serta segmen bermargin tipis ke pasar dan model perangkat yang memberikan keuntungan lebih tinggi.
Di sisi lain, Vivo memprioritaskan pasar utamanya, yakni India dan China. Perusahaan memperkuat seri Y untuk menarik konsumen yang mengutamakan harga dan nilai produk, sekaligus memperluas lini premium melalui seri X, V dan S.
(nad/lom)