Waspada Serangan Siber Targetkan Wisatawan di Jepang
Riset terbaru dari Kaspersky menemukan maraknya serangan siber yang menargetkan wisatawan di Jepang. Serangan ini diketahui berdampak pada wisatawan dari luar negeri, termasuk Indonesia.
Menurut data Kaspersky, pengguna internet di Jepang tengah menghadapi berbagai ancaman siber yang dapat berdampak pada wisatawan luar negeri.
Riset ini menemukan sekitar 32.851.462 deteksi ancaman web umum, yaitu ancaman yang menargetkan situs web berbahaya dan risiko daring lainnya. Ancaman ini mungkin ditemui pengguna ketika mencari informasi perjalanan, memesan layanan atau menggunakan jaringan publik.
Selanjutnya, riset turut menemukan sekitar 201.517 deteksi pencuri kata sandi atau password stealer, yakni ancaman yang dirancang untuk mengumpulkan kredensial dari peramban, aplikasi dan akun.
Penemuan ini mengungkap sekitar 209.226 deteksi spyware, perangkat lunak berbahaya yang dapat memantau aktivitas pengguna serta mengakses informasi sensitif.
Kaspersky juga mendeteksi sekitar 294.394 backdoor, ancaman yang memungkinkan penyerang mendapatkan akses tidak sah ke perangkat yang terinfeksi.
Lebih lanjut, para ahli Kaspersky menyoroti risiko siber utama bagi wisatawan di Jepang. Menurut mereka, para wisatawan cenderung menggunakan layanan digital yang asing, terhubung dengan lokasi baru, dan sering kali perlu mengambil keputusan yang cepat.
Situasi ini yang kerap dimanfaatkan oleh para penjahat siber untuk mengelabui para korban.
"Saat berpergian, orang cenderung lebih fokus untuk menjelajahi tempat-tempat baru daripada memikirkan keamanan siber. Inilah yang membuat wisatawan menjadi target yang menarik: mereka menggunakan layanan digital yang asing, terhubung dari lokasi baru, dan sering kali mengambil keputusan dengan cepat," kata Peneliti Keamanan Utama di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky dalam keterangannya, Senin (19/10).
"Riset kami menunjukkan bahwa penjahat siber secara aktif memanfaatkan situasi ini," tambahnya.
Untuk menghindari kasus ini, Kaspersky mengimbau para wisatawan untuk memberikan perhatian khusus pada pengguna WiFi publik dan pencurian kredensial. Hal tersebut mengingat layanan WiFi gratis tersedia luas di bandara, hotel, kafe dan pusat perbelanjaan di seluruh Jepang.
Menurut Kaspersky, layanan WiFi gratis dapat menjadi celah bagi pelaku kejahatan untuk membuat hotspot palsu yang dirancang guna mencuri kredensial masuk atau informasi keuangan.
Wisatawan dapat terpapar risiko tersebut saat terhubung ke jaringan WiFi publik untuk mengakses layanan perjalanan, surel, akun daring atau melakukan pembayaran.
Selain itu, wisatawan juga perlu waspada terhadap penipuan pembayaran melalui kode QR. Pasalnya, ekosistem pembayaran nontunai di Jepang berkembang pesat, sehingga penipu mungkin menempelkan kode QR palsu di atas kode QR yang sah atau mengalihkan pembayaran ke rekening milik pelaku penipuan.
Risiko ini dapat muncul ketika wisatawan menggunakan kode QR untuk melakukan pembayaran di toko, restoran, fasilitas transportasi atau layanan terkait pariwisata lainnya.
Kaspersky turut mengimbau wisatawan untuk memeriksa nama pedagang dan detail pembayaran sebelum menyetujui transaksi, menghindari kode QR yang rusak atau tampak diubah, mengonfirmasi detail kepada staf jika merasa ragu, serta memastikan notifikasi pembayaran tetap aktif.
(nad/lom)