Pakar: Kondisi Gambut Kritis, Waspada Potensi Bencana Berlanjut

Dewi Safitri | CNN Indonesia
Kamis, 22 Okt 2026 16:15 WIB
Kerusakan lahan gambut di Indonesia meningkatkan risiko kebakaran dan banjir. Ahli memperingatkan potensi bencana berulang jika kerusakan terus berlanjut.
Kerusakan lahan gambut di Indonesia meningkatkan risiko kebakaran dan banjir. Ahli memperingatkan potensi bencana berulang jika kerusakan terus berlanjut. (Foto: ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN)

Apa perubahan terbesar alih fungsi gambutnya?

Dikonversi, difungsikan sebagai fungsi lain. Kita melupakan fungsi-fungsi gambut sebagai penyimpan air, tempat biodiversitas, yang menjaga kehidupan kita. Itu sekarang hilang.

Akibatnya, sekarang musim kering sering kebakaran. Tanaman kelapa sawit yang ditanam di atas lahan gambut sebagian daunnya akan mengering, karena tidak ada air lagi. Itu menunjukkan daya simpan air di gambut itu sudah habis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jadi sudah kritis. Itu yang terjadi ketika fungsi gambutnya sudah hilang. Paling penting ini terjadinya fungsi-fungsi yang berubah: gambut mengering, emisi karbon yang sangat tinggi, menurut laporan UNEP juga, yang saya katakan, itu sifatnya irreversible (tidak bisa dikembalikan lagi). Tidak akan balik, tidak bisa. Masalahnya gambut itu terbentuk dalam ribuan tahun tadi. Jadi dalam satu tahun, mungkin hanya setengah milimeter atau kurang lapisan gambut itu bertambah.

Jadi kan tidak mungkin dalam skala manusia, waktu kita hidup, bisa membalikkannya lagi. Merestorasi, memulihkan. Yang bisa kita kerjakan sekarang, mungkin mengurangi atau menjaga saja.

Bagaimana Anda melihat ancaman bencana ke depan?

Sangat parah kita saat ini. Karena drainase di lahan gambut ini kan sifatnya masif dan ekstensif. Kita tidak menjaganya, tidak merawat. Jadi memang situasi ini sifatnya antropogenik, akibat perbuatan manusia. Perubahan iklim ini adalah gangguan manusia, bukan faktor alam.

Kalau faktor alam itu ada, tapi perubahannya dalam segala jangka panjang dan tidak mengejutkan. Kalau ini kan sangat mengejutkan. Kita kelabakan. Kelabakan sekarang ini mungkin salah satu indikator sosial juga, di mana kita tidak siap. Tidak resilient, artinya kita tidak mampu menyerap gangguan ini.

Tidak mampu juga dalam adaptasi dan transformasi perubahan-perubahan yang cukup penting, sehingga bisa mengurangi dampaknya. Sekarang paling-paling kita bisa bagi masker. Jadi kelembagaan kita tidak mampu memadamkan kebakaran gambut itu kalau tidak ada hujan. Jadi memang sulit sekali buat kita di Indonesia saat ini.

Kalau lihat situasinya sekarang, apakah tahun-tahun yang akan datang bisa diperkirakan kejadian berulang?

Ada dua hal. Kejadian yang akan datang bisa kekeringan makin sering, dan intensitasnya panjang sehingga kebakaran.

Bisa juga jumlah hujan bertambah. Tambah banyak. Jadi musim hujannya jatuhnya mungkin debit air totalnya per tahun sama tapi jatuhnya itu mungkin tidak merata. Tiba-tiba, bisa hujannya deras sekali pada satu saat saja. Akibatnya karena gambut sudah tidak bisa lagi menyimpan air, ya banjir lah kelebihan air.

Airnya terbuang, harus dibuang ke ke laut akhirnya. Tapi kan lewat rumah orang dulu, lewat perumahan dan lain sebagainya. Jadi tergenang lah. Karena sifat gambut kan memang lahan basah. Sifat dia yang mestinya menyimpan air sudah tidak berfungsi secara baik rusak. Sehingga, ya begitulah yang kejadiannya.

Banyak nanti masalah juga muncul akibat kebakaran dan kebanjiran. Jadi tidak nyaman lah hidup kita. Susah dan belum ada solusi yang pasti buat kita yang di sini. Apalagi untuk penduduk yang langsung tinggal di sekitar wilayah gambut.

Mungkin mereka akan banyak kehilangan mata pencarian. Ada bencana ditambah kehilangan mata pencarian juga. Susah karena hidupnya kan selama ini bergantung sama gambut sebenarnya.

(dsf/dmi)

HALAMAN:
1 2