METI Apresiasi 2 Tahun Prabowo Percepat Energi Terbarukan

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 19:59 WIB
METI mendukung kepemimpinan Prabowo dalam percepatan energi terbarukan, termasuk program B50 dan PLTS 100 GWp untuk ketahanan energi. (Foto: CNN Indonesia/Damar Iradat)
Jakarta, CNN Indonesia --

Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menilai pemerintahan Prabowo Subianto menunjukkan kepemimpinan paling transformati dalam mendorong akselerasi energi terbarukan nasional. Menurutnya, Prabowo telah memperkuat percepatan energi terbarukan sebagai agenda strategis nasional.

Ketua Umum METI Norman Ginting mengungkap bahwa sejumlah program seperti biodiesel, pengembangan bioetanol, program PLTS 100 GWp, serta percepatan pengolahan sampah menjadi energi (PSEL) menunjukkan arah pembangunan yang menghubungkan ketahanan energi, penguatan ekonomi rakyat, dan keberlanjutan lingkungan.

"Keberanian memperbesar skala program dan menghubungkannya dengan kemandirian energi, industrialisasi, serta kesejahteraan rakyat merupakan perubahan yang sangat penting bagi masa depan Indonesia," ujar Norman dalam keterangan resminya, Rabu (21/10).

Menurut Norman, ukuran keberhasilan transisi energi adalah manfaat yang dirasakan masyarakat, yakni berkurangnya ketergantungan impor, bertambahnya peluang usaha dan lapangan kerja, serta energi yang kian andal dan terjangkau.

B50

METI mengapresiasi mandatori biodiesel 50 atau B50 yang diluncurkan pada Juli 2026. Dalam rilisnya, METI menyebut pemerintah menyampaikan bahwa implementasi B50 memungkinkan penghentian impor solar, dengan potensi penghematan devisa hingga Rp170 triliun.

Norman mengatakan bahwa B50 membuktikan Indonesia mampu membangun solusi energi dari sumber dayanya sendiri.

METI menilai berkurangnya ketergantungan pada BBM impor memperkuat ketahanan Indonesia terhadap gejolak harga energi dan nilai tukar. Namun, langkah ini perlu dibarengi dengan pengelolaan insentif dan pembiayaan yang efisien untuk menjaga keberlanjutan fiska dan mengendalikan beban subsidi energi.

E20

METI juga menyambut program bioetanol 20 atau E20, yakni pencampuran bensin dengan 20 persen bioetanol. Menurut METI, pemerintahan Prabowo sudah menyampaikan persiapan program ini dengan memanfaatkan bahan baku pertanian domestik dan memperkuat kepastian penyerapan produksi.

Norman menyebut tebu, jagung, sorgum, singkong, dan bahan baku lain yang layak dikembangkan dapat menjadikan petani bagian penting rantai pasok energi nasional. Oleh sebab itu, METI mendorong kemitraan petani yang adil. kepastian pembelian, dan pemanfaatan lahan yang bertanggung jawab dengan tetap menjaga ketahanan pangan.

PLTS 100 GWp

Norman menilai program PLTS 100 GWp sebagai langkah berani untuk mengubah skala pengembangan energi terbarukan nasional. Prabowo telah menegaskan bahwa program ini sebagai bagian dari percepatan transisi energi.

Jika terealisasi penuh, program ini berpotensi meningkatkan signifikan kontribusi energi terbarukan dalam penyediaan listrik, sekaligus memperluas akses energi di kepulauan, wilayah terluar, dan daerah yang bergantung pada pembangkit diesel.

METI menekankan pentingnya integrasi PLTS dengan baterai, penguatan jaringan, dan pengoperasian sistem yang tepat. Di wilayah yang bergantung pada diesel mahal, kombinasi itu dinilai berpeluang menekan biaya listrik dan kebutuhan subsidi.

Sampah jadi energi

METI turut mengapresiasi percepatan pengolahan sampah menjadi energi. Menurut METI, pemerintah telah menetapkan lokasi prioritas dan mendorong keterlibatan pemerintah daerah, Danantara, serta mitra usaha.

METI mendorong perluasan program secara bertahap ke kota yang siap secara teknis dan keekonomian, dengan pengendalian emisi ketat dan pengelolaan residu yang aman. Pengurangan, pemilahan, dan daur ulang sampah tetap harus diutamakan.

Perkuat ekosistem energi terbarukan

Selain deret program unggulan tersebut, METI juga mendukung percepatan panas bumi, tenaga air, angin, biomassa berkelanjutan, biogas, serta pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan hidrogen hijau sesuai kesiapan teknologi dan pasar.

Arah penguatan ini tercermin dalam RUPTL PLN 2025-2034, yang merencanakan tambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 42,6 GW dan penyimpanan energi sebesar 10,3 GW. Keduanya mencakup sekitar 76 persen dari total rencana penambahan kapasitas 69,5 GW.

Norman menegaskan bahwa tahap berikutnya adalah memastikan visi besar tersebut diterjemahkan menjadi proyek yang beroperasi dan manfaat ekonomi yang nyata. Kepastian regulasi, pembiayaan yang kompetitif, kesiapan jaringan, serta koordinasi lintas sektor menjadi faktor penentu.

"Dua tahun pertama telah meletakkan arah transformasi yang kuat. METI siap menjadi mitra strategis pemerintah untuk mempercepat pelaksanaannya. Tujuan kita adalah Indonesia yang semakin mandiri energinya, semakin kuat industrinya, dan semakin sejahtera rakyatnya," kata Norman.

(dmi)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK