Binance Diretas, Hacker Korea Utara Diduga Jadi Dalangnya
Pengelola bursa kripto Binance membekukan sementara aset kripto, lantaran terindikasi terkena serangan siber. Mereka menduga kelompok hacker dari Korea Utara berada di balik aksi tersebut.
Binance mengatakan bahwa mereka mulai memulihkan aset yang terdampak. Perusahaan juga terus bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan perusahaan intelijen blockchain untuk melacak dana hasil pencurian lainnya.
Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa peretasan tersebut kemungkinan berasal dari laptop milik seorang insinyur. Kondisi ini memungkinkan pelaku mengakses wadah layanan dan mengirimkan transaksi penarikan tanpa izin.
Menurut laporan CNN, sejumlah perusahaan pelacak transaksi kripto juga menemukan indikasi bahwa serangan tersebut berasal dari Korea Utara berdasarkan bukti yang ditemukan di blockchain.
Perusahaan pelacak transaksi kripto TRM Labs mengaitkan pencurian tersebut dengan kelompok hacker elite Korut. Kesimpulan itu didasarkan pada "intelijen on-chain dan off-chain yang kuat".
TRM Labs juga menyebut bahwa sejumlah karakteristik serangan itu memiliki kemiripan dengan aksi peretasan sebelumnya yang dikaitkan dengan Korea Utara.
Pangolin Intelligence, perusahaan pelacak blockchain yang berbasis di Singapura, juga meyakini bahwa unit peretas Korut merupakan dalang serangan tersebut.
Seorang analis Pangolin Intelligence, yang meminta identitasnya tidak diungkap, mengatakan bahwa kesimpulan itu diperoleh setelah menganalisis aktivitas transaksi di blockchain yang berkaitan dengan peretasan tersebut dan membandingkannya dengan informasi dari sejumlah insiden sebelumnya.
"Saya kira permainan kucing-kucingan ini baru saja dimulai," kata analis tersebut, Jumat (30/10).
Ia menambahkan, Korut kemungkinan akan memanfaatkan jaringan organisasi pencucian uang untuk mengubah aset kripto hasil pencurian menjadi uang yang dapat digunakan.
Perusahaan pelacak kripto lainnya, Chainalysis, mengaku sedang memantau pergerakan dana hasil pencurian yang berpindah melalui sejumlah jaringan blockchain, termasuk Bitcoin dan Ethereum.
Juru bicara Chainalysis mengatakan bahwa pihaknya meyakini bahwa Korut berada di balik serangan tersebut.
CNN sudah menghubungi perwakilan Korea Utara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meminta tanggapan. Pyongyang sebelumnya telah membantah tuduhan keterlibatan dalam berbagai aksi peretasan.
Sementara itu, FBI turut memonitor kasus ini. FBI mengatakan bahwa mereka mengetahui insiden tersebut dan tengah bekerja sama dengan mitra terkait dari sektor pemerintah maupun swasta.
"FBI mengetahui insiden tersebut dan sedang bekerja sama dengan mitra terkait dari sektor publik dan swasta untuk memahami cakupan aktivitas tersebut, mengevaluasi potensi dampaknya, serta mengoordinasikan langkah-langkah investigasi yang diperlukan," demikian pernyataan FBI.
Ini bukan serangan siber pertama yang melibatkan hacker asal Korut. Peretas Korea Utara sebelumnya juga dituding sebagai pelaku pencurian kripto terbesar yang tercatat sebelum insiden Binance.
Pada Februari 2025, mereka diduga mencuri aset senilai US$1,5 miliar dari Bybit, bursa mata uang kripto besar lainnya. Dalam kasus tersebut, para pelaku mencuri aset senilai sebagian besar produk domestik bruto (PDB) tahunan Korea Utara yang dilaporkan, hanya dalam hitungan menit.
Kelompok peretas Korea Utara dikenal memiliki kemampuan tinggi dan menjadi salah satu sumber pemasukan penting bagi negara yang memiliki senjata nuklir tersebut. Negara itu juga tengah menghadapi berbagai sanksi internasional.
(dmi)