Burung Laut Juga Bisa Jet Lag, Bikin Arah Terbang Melenceng

CNN Indonesia
Selasa, 03 Nov 2026 16:45 WIB
Studi terbaru menunjukkan burung laut migrasi mengalami jet lag, memengaruhi navigasi dan arah terbang. (Foto: AFP PHOTO / CHARLY TRIBALLEAU)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa burung laut yang melakukan migrasi jarak jauh melintasi Atlantik dapat mengalami jet lag atau ketidaksesuaian antara jam biologis internal mereka dan waktu setempat. Hal ini juga memengaruhi navigasi dan membuat arah terbang mereka melenceng.

Banyak hewan menggunakan Matahari untuk menemukan arah jalan mereka, begitu pula burung. Namun, karena Matahari bergerak melintasi langit sepanjang hari, mereka membutuhkan jam internal untuk menavigasi arah dan menafsirkan posisinya dengan benar.

Burung-burung biasanya menjadikan Matahari terbit sebagai isyarat untuk mengatur ulang jam internal dan menentukan arah terbang. Namun, ketika terbang cepat ke timur atau barat pada siang hari, jam internal mereka kemungkinan tidak sinkron dengan waktu Matahari setempat.

Kondisi jet lag tersebut dapat membuat mereka salah memperkirakan posisi Matahari dan terbang sedikit melenceng dari jalur yang seharusnya.

Dikutip dari situs Department of Biology Oxford, tim peneliti menganalisis pelacakan GPS selama 20 tahun dari 1.045 burung camar Manx. Kurang lebih, ada sekitar 3.688 perjalanan mencari makan selama periode penelitian tersebut berlangsung.

Burung camar Manx (Puffinus puffinus) berkembang biak di pulau-pulau lepas pantai barat Inggris dan Irlandia. Mereka biasanya melakukan perjalanan ratusan kilometer ke laut untuk mencari makanan, jarak tempuhnya bahkan bisa sampai 1.000 kilometer ke arah barat.

Saat kembali ke sarang, burung-burung tersebut dapat melakukan perjalanan balik ke arah timur melintasi garis bujur ke zona yang Mataharinya terbit lebih awal. Akibatnya, mereka dapat mengalami jet lag hingga satu jam seperti yang manusia alami jika melakukan penerbangan ke wilayah dengan zona waktu yang lebih awal.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (29/10) tersebut menemukan bahwa arah terbang burung-burung tersebut menunjukkan penyimpangan (systematic deviations) yang sejalan dengan efek pergeseran orientasi waktu pada kompas Matahari mereka.

Tim peneliti membandingkan data pergerakan arah burung dengan pergerakan Matahari menggunakan model statistik. Hasilnya, mereka menemukan bahwa penyimpangan cenderung disebabkan oleh kompas Matahari, bukan dinamika magnet Bumi seperti dugaan alternatif dari hipotesis sebelumnya.

Kesalahan navigasi ini juga tetap terjadi bahkan ketika burung-burung tersebut terbang di sepanjang garis pantai yang terlihat, di mana penanda lokasi sebenarnya dapat memandu mereka, membuktikan bahwa burung-burung tersebut memang selalu mengandalkan kompas Matahari.

"Sungguh menakjubkan untuk berpikir bahwa miliaran hewan migrasi menatap matahari untuk menentukan arah, mengandalkan jam yang berdetak tanpa suara di dalam tubuh mereka, dan bahwa kesalahan pada jam tersebut dapat menyebabkan mereka menyimpang sedikit dari jalur yang seharusnya," kata peneliti utama Patrick Lewin.

Kesalahan navigasi efek jet lag pada burung yang diamati relatif kecil, hanya sekitar 15 derajat. Burung tersebut juga tampaknya mampu mengenali posisi mereka dan menyesuaikan arah rute pulang secara terus menerus sehingga jarak tambahan yang ditempuh kemungkinan tidak terlalu jauh.

Menurut perhitungan mereka, jika seekor burung camar kembali dari jarak 1.000 kilometer dengan kesalahan kompas rata-rata 7 derajat dan terus menerus menyesuaikan arahnya, ia hanya akan menempuh jarak tambahan sekitar 5 kilometer lebih jauh dari rute idealnya.

Meski demikian, temuan ini menunjukkan dampak yang lebih luas bagi hewan yang melakukan perjalanan migrasi yang lebih jauh tanpa dapat terus menerus menyesuaikan arah. Misalnya, pada burung yang melakukan migrasi pertamanya, kesalahan navigasi berpotensi menggeser mereka dari tujuannya hingga ratusan kilometer.

Para peneliti juga mengatakan bahwa efek jet lag ini berpotensi membawa dampak lain selain navigasi sebagaimana yang dialami manusia seperti gangguan tidur, kelelahan, dan gejala lainnya. Untuk itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui efek serupa pada kesehatan, perilaku, atau kelangsungan hidup mereka.

Selain untuk mengetahui dampaknya pada burung, penelitian terhadap bagaimana burung camar beradaptasi menyesuaikan kembali arah terbangnya mungkin dapat mengatasi masalah jet lag pada manusia.

"Mungkin burung-burung yang secara rutin melakukan perjalanan jarak jauh ini dapat membantu kita mempelajari cara mengatasi dan mengobati jet lag untuk menghindari efek negatif yang sangat buruk bagi kesehatan kita," kata Patrick.

(fta/dmi)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK