Dia tetap berkarya, menulis dan melukis. Baru tahun lalu dia menerbitkan buku terbaru, Dari Ngalian ke Sendowo (2015), yang merupakan rangkaian Cerita Kenangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehidupan Dini sebagai pramugari darat dirangkum dalam Kemayoran (2000).
Berpisah dari Yves, Dini pulang ke Indonesia dan bolak-balik Jakarta-Semarang, tertulis dalam Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang (2012). Ketika membangun Pondok Baca di rumah masa kecilnya di Sekayu, Semarang, diceritakan dalam Pondok Baca (2011), hingga yang terakhir, Dari Ngalian ke Sendowo, adalah sewaktu akhirnya memutuskan tinggal mandiri di wisma lansia.
Dibuatnya penanda Cerita Kenangan adalah untuk membedakan dengan karya novelnya, seperti Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko (1977), Pada Sebuah Kapal (1972), Orang-orang Tran (1983), dan Jalan Bandungan (1989).
Dari sederet judul tersebut, pembaca karyanya tertambat demikian kuat pada novel Pada Sebuah Kapal. Berkisah tentang Sri yang berselingkuh dengan Michel, kapten kapal dalam sebuah pelayaran antarnegara. Novel ini sempat jadi kontroversi, selain karena tema perselingkuhan, juga karena Dini mendeskripsikan percintaan Sri dan Michel demikian detail, sampai-sampai dicap cabul.
Seiring waktu, masyarakat dapat menerima, bahkan memasukkan Pada Sebuah Kapal sebagai bacaan referensi dalam pelajaran sekolah. Tak terhitung lagi berapa banyak mahasiswa yang menjadikannya bahan kajian karya ilmiah.
Di usia 80 tahun, kondisi Dini terbilang sehat, walau ada yang mesti dikontrol melalui jamu-jamuan dan tusuk jarum, yakni osteoartritis dan vertigo. Kondisi inilah yang tak memungkinkan Dini berjalan jauh dan membaca dalam waktu lama. Membaca empat-lima halaman buku sudah cukup membuat vertigonya kumat.
Novel, kumpulan cerpen, dan seri Cerita Kenangan karya Nh Dini. (CNN Indonesia/Silvia Galikano) |
Itu sebabnya Dini tak lagi membaca buku. Dia memilih menggunakan waktu bugarnya untuk duduk di depan komputer, menyelesaikan tulisan.
Andaipun ada karya panjang milik orang lain yang dibaca, adalah karya sastra Perancis, utamanya karya-karya peraih Nobel, karena dia mendapat sesuatu dari situ. Sedangkan karya berbahasa Indonesia hanyalah puisi dan cerpen di Kompas Minggu. Membacanya pun dibantu kaca pembesar.
Tiga kali sepekan Dini tusuk jarum di tempat Pak Tjiong di Jagalan, Semarang. “Walau gratis karena oleh teman sendiri, namun taksi ulang-alik Banyumanik-Jagalan Rp300 ribu. Jadi harus punya uang,” ujar Dini sewaktu dijumpai di kediaman sepupunya, Edi Sedyawati, di Menteng, Jakarta, Oktober 2015.
Padahal nafkah Dini sepenuhnya dari royalti dan honor sebagai pembicara, yang di Indonesia, tak dapat mendukung keperluan sehari-hari, apalagi untuk fasilitas kesehatan.
“Kalau di Malaysia, sekaliber saya ini sudah mendapat gelar Sastrawan Negara dan sudah disantuni per tahun sebagai jaminan sehat.” Untunglah, lebih dari 10 tahun terakhir, Dini banyak dibantu anaknya, Pierre Coffin, sang kreator Minion.
(vga)
Novel, kumpulan cerpen, dan seri Cerita Kenangan karya Nh Dini. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)