Kebuntuan soal negosiasi global terpapar jelas dalam pertemuan forum Kerja Sama Asia-Pasifik yang gagal menyepakati pernyataan bersama seperti biasanya, menyusul seruan perlawanan terhadap proteksionisme dari sejumlah oposisi AS.
Pertemuan di Hanoi, Vietnam, adalah forum perdagangan terbesar yang digelar setelah rombongan Trump menggantikan pemerintahan AS yang lama. Presiden AS berargumen, kesepakatan multilateral itu membuat negaranya kehilangan pekerjaan dan ia ingin memutuskan sejumlah kerja sama baru.
Lihat juga:Dicampakkan Trump, TPP Bisa Bangkit di APEC |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan dari Lighthizer menyebut perdagangan bebas memerlukan penghentian "langkah-langkah pengganggu perdagangan" yang telah membuat "ketidakseimbangan perdagangan AS besar--kemungkinan merujuk pada China yang mendapatkan keuntungan hampir 350 juta pada 2016.
"Saya berharap bisa bekerja sama dengan rekanan dagang kami untuk memperluas pasar ekspor AS dan menyelesaikan praktik dagang tak adil yang terus berlangsung," kata negosiator AS sejak era Ronald Reagan itu.
"Kami berfokus pada cara untuk melanjutkan kerja sama dengan 11 anggota," kata Menteri Perdagangan Selandia Baru Todd Mclay.
Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga kepentingan Vietnam dan Malaysia, yang menandatangani kesepakatan dan berjanji akan membuat reformasi dengan besar untuk mendapatkan akses pasar AS lebih baik.
"Kami mesti memastikan kepentingan kami tetap terlindung dan keuntungan yang datang darinya bisa menutupi pengeluaran," kata Menteri Perdagangan Malaysia Mustapa Mohamed Said.
Pejabat-pejabat dari negar TPP akan bertemu lagi di Jepan pada Juli dan mengajukan proposal pada November, kata McClay.