Atau hanya sekedar semboyan dan perayaan seremonial? Masihkan anak muda Indonesia tahu siapa pahlawan mereka? Sudah sepantasnya anak muda, generasi penerus bangsa terus mengenang dan menjadikan pahlawan sebagai panutan. Jasanya perlu diingat, untuk jadi cerminan bahwa negaranya kini tak didapat dari belas kasihan, tapi perjuangan penuh pengorbanan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, istilah umum kala perayaan Hari Pahlawan di 10 November setiap tahunnya.
Generasi muda, generasi penuh gairah, semangat dan kreativitas. Kreativitas tanpa batas, itulah semboyan dalam berkreasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat saja pada gambar Kartini, pejuang perempuan dengan judul bukunya yang terkenal ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ berpenampilan normal layaknya perempuan Jawa dengan kebaya dan sanggul, dirombak sedemikian rupa menjadi wanita bersanggul, berkacamata, dengan pakaian terbuka. Kata-kata ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ diplesetkan menjadi ‘Berangkat Gelap Pulangnya Terang’, menggambarkan perbandingan anak muda dulu dan kini.
Entah apa yang melatarbelakangi pembuatan karya-karya semacam ini. Sebagai tokoh pejuang bangsa tak pantas rasanya menjadikan para pahlawan sebagai bahan guyonan dan tertawaaan. Penyuntingan gambar Kartini boleh jadi yang terparah, hal sangat tidak terpuji, merusak nama baik Kartini. Pernahkah terpikir, apa yang dirasakan oleh keluarga Kartini jika melihat Istrinya, Ibunya, Tantenya, Bibinya, adik perempuannya, kakak perempuannya dijadikan bahan guyonan dengan menjadikannya tokoh tak senonoh. Dimana rasa hormat pada tokoh yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa?
Ada pula hal lain yang sering kita jumpai yaitu, tindakan mencorat-coret uang dengan gambar pahlawan. Dan yang paling populer adalah Kapitan Pattimura, pada mata uang seribu rupiah. Ya, karena nilainya yang dirasa tidak terlalu besar dibanding mata uang Imam Bonjol, Sultan Mahmud Badaruddin, Otto Iskandar Dinata, I Gusti Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta.
Mata uang Kapitan Pattimura jadi yang terpopuler sebagai objek percobaan. Pengeditan manual hingga digital dilakukan. Kerap kali kita melihat Pattimura berganti wujud menjadi tokoh-tokoh lain mulai dari Spider-Man, Naruto, power Ranger hingga Pattimura melakukan selfie dengan tongkat narsis yang tengah digemari.
Tindakan ini telah menghilangkan nilai tukar dari mata uang itu sendiri, seperti yang tertuang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana BAB X Tentang Pemalsuan Mata Uang dan Uang Kertas. Penggunaan tokoh pahlawan menjai ikon di mata uang pastilah memiliki tujuan terpuji. Agar kita para penerus bangsa terus mengenang dan menghargai jasa para pahlawan. Dengan uang kita diingatkan agar tak lupa dan terus belajar akan semangat berjuang dari para pahlawan untuk mengisi kemerdekaan. Tindakan mencorat-coret wajah pahlawan bukanlah tindakan mengahargai melainkan menodai.
Ya, anak muda Indonesia memang begitu kreatif. Namun kreativitasnya terkadang kelewat batas. Tak melihat siapa yang menjadi objek berseni. Di mana etika dan rasa hormat yang dianut bangsa? Tak etis menjadikan tokoh pejuang bangsa sebagai bahan candaan, melihat jasa yang begitu besar telah mereka torehkan. Bayangkan dimasa depan, anak-anak cucu melihat hal ini. Sepertinya tak akan ada lagi sosok pahlawan penuh kisah semangat pengorbanan, habis sudah dimakan candaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan, bukan yang menjadikan pahlawan sebagai bahan hiburan.