Celakanya, internet seperti pisau bermata dua. Anak-anak akan bisa semakin kreatif dengan informasi yang didapat, tapi bisa juga tidak. Justru membuat anak mendapatkan info yang tidak sesuai dengan usianya.
Hal itu bukan tanpa alasan, di masa remaja mereka memang memasuki tahap pencarian jati diri. Lewat sosial media, mereka menjadi wadah mereka untuk berekspresi.
Vera Itabiliana (CNN Indonesia/Nico Wijaya) |
Hal itu diungkapkan oleh Vera Itabiliana, seorang Psikolog Anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Vera, orang tua harus lebih mendekatkan diri dengan anak lewat akun media sosial yang dimiliki mereka.
Jalin komunikasi
Menurut Vera, menjalin komunikasi dengan anak itu sangat penting. Hal yang harus diperhatikan adalah komunikasi yang benar-benar tatap muka, interaksi satu sama lain. Ini akan membuat hubungan anak dan orang tua lebih dekat.
Menjadi contoh
Ingin anak tidak terpaku pada gadget? Orang tua pun harus mencontohkannya. Bila Ibu ingin anak tidak main ponsel saat makan, harus dicontohkan. Begitu pula sebaliknya.
Memilih konten
Ada baiknya orang tua memilih konten, aplikasi dan sosial media yang diakses oleh anak. Disesuaikan dengan usia anak, diskusi dan beri pengertian.
Terapkan aturan
Orang tua harus bisa membuat aturan dalam penggunaan gadget. Misalnya, pada jam tertentu anak tidak diperbolehkan untuk memakai gadget, dan dikumpulkan di satu tempat.
Berteman dengan anak di sosial media
Nah, ini yang tidak kalah penting. Orang tua jangan 'kalah' gaul dengan anak. Berteman di media sosial bisa menjadi kontrol yang paling baik untuk melihat siapa saja yang berteman dengannya, dan apa saja yang dibicarakan. Tapi, tetap menjadi teman yang 'cool'. Tidak berkomentar apapun,cukup memperhatikan. (rkh/rkh)
Vera Itabiliana (CNN Indonesia/Nico Wijaya)