Setiap malam suasana di Balai Banjar Kelod Kauh, Desa Panji, Kabupaten Buleleng tak pernah sepi dengan kegiatan berkesenian. Di sini ada sanggar tari, yang melatih tari Joged Bumbung untuk anak anak kecil. Tapi jangan salah, Joged Bumbung yang diajarkan sangat jauh dari kesan erotis yang tak senonoh, seperti yang tersebar luas di berbagai media social.
Pelatih tarinya adalah Putu Meres, pria paruh baya ini sangat bersemangat untuk mengembangkan tari pergaulan Joged Bumbung di kampung halamannya. Semangatnya tak lepas dari antusias anak-anak yang ramai mendatangi sanggarnya, untuk belajar menari dengannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putu Meres sudah mengenal Joged Bumbung sejak umur 3 tahun. Waktu itu Joged Bumbung tak dipandang erotis seperti yang tersebar belakangan ini. Joged Bumbung yang ia kenal justru mempertahankan pakem tari joged Bali klasik, yang masih mengutamakan nilai etika.
Semangat Putu Meres untuk mengembangkan Joged Bumbung pun didukung oleh para orang tua yang menitipkan anak, untuk belajar menari dengannya. Salah satunya Ketut Ngurah Alit Maruta. Ia mengaku, kegiatan yang ada justru menumbuhkan sikap positif pada anaknya dan memberikan ruang untuk berkreativitas.
“Semangat anak saya tinggi sekali, dengan dilatih langsung sama penari tuanya jadi sama-sama mengisi. Anak-anak jadi positif, tidak hanya bermain di rumah, justru ada ruang untuk berkreatif," ungkap Ketut Ngurah Alit Maruta, saat ditemui sedang mengantar anaknya berlatih menari.
Joged Bumbung memang memiliki pesona eksotis di mata penikmat, khususnya lelaki dewasa. Namun Joged Bumbung sejatinya merupakan tarian bersifat partisipatif, dengan mengajak penonton menari bersama. Di sini unsur hiburanlah yang ditekankan, bukan unsur erotis yang mengarah ke porno aksi.
(Dok. Edo Hary Purnawan) |
(Dok. Edo Hary Purnawan)