Dilansir dari US National Library of Medicine National Institutes of Health, polusi cahaya di bumi meningkat sekitar 6% per tahunnya. Polusi tersebut meningkat dari intensitas dan luas areanya sehingga membuat bumi terlihat semakin terang dari malam ke malam. Jika dianalogikan, bumi seperti diselimuti pendaran cahaya yang kian menebal setiap tahunnya.
Pendaran cahaya itu menyebabkan periode gelap terang di bumi mengalami perubahan. Lampu-lampu jalanan, gedung dan papan reklame iklan yang menyala sepanjang malam merupakan penyumbang terbesar polusi cahaya yang efeknya langsung dipantulkan ke arah langit. Konsekuensi ekologis yang mungkin terjadi selanjutnya adalah sebuah mispersepsi pengaturan fisiologis makhluk hidup di muka bumi ketika merespon gelap terangnya lingkungan dalam siklus 24 jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adanya cahaya buatan yang mengganggu siklus natural pencahayaan harian atau musiman memberikan informasi menyimpang pada tumbuhan. Respon fisiologis seperti periode pembungaan atau perkembangbiakan tumbuhan dengan paparan polusi cahaya bisa berada di luar garis normal. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa jenis-jenis tumbuhan tertentu berbunga dan berbuah lebih awal karena mendapat cahaya berlebih dari lampu jalanan yang menyala terus-menerus di malam hari. Fenomena tersebut mengungkapkan bahwa polusi cahaya mampu mengubah perilaku tumbuhan sehingga tidak sesuai lagi dengan ritme biologisnya.
Tentu saja ketidakseimbangan ini akan membawa efek lebih besar pada keharmonisan alam di bumi. Tumbuhan seratus tahun mendatang mungkin hanya dapat memekarkan bunganya sebentar dalam sehari, menggugurkan daunnya lebih cepat dari biasanya, tidak pernah lagi menghasilkan buah, atau mengalami perpendekan masa hidup tergantung dari jenisnya apakah termasuk tumbuhan yang aktif pada periode terang atau periode gelap.
Kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah sebuah mispersepsi tumbuhan karena mereka tidak hidup berdasarkan kehendaknya, tapi hidup berdasarkan lingkungannya. Tumbuhan mungkin bingung kapan musim semi harus tiba atau kapan musim gugur harus berakhir, tapi mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru untuk mempertahankan hidupnya. Dengan kata lain, polusi cahaya di bumi lambat laun merusak sistem ekologi secara keseluruhan.
Lalu di mana peran manusia dalam menanggapi perubahan sikap alam yang tidak wajar ini? Seratus tahun bukanlah waktu yang sebentar. Manusia masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang telah terjadi.
Angka polusi cahaya bisa ditekan seminimal mungkin. Membuat lampu jalanan atau papan reklame iklan tidak menyorotkan cahayanya ke langit adalah hal yang mudah. Namun tugas manusia justru lebih dari sekadar mengurangi polusi cahaya untuk menyelamatkan bumi di masa depan. Mungkin manusia seratus tahun yang akan datang bisa membuat bumi tetap terang pada malam hari tanpa menghasilkan cahaya buatan. Yang jelas kita harus tetap bersahabat dengan alam. Ketika kita tidak merusak keseimbangan alam, maka alam juga tidak akan merusak keseimbangan hidup manusia. (ded/ded)