Profesor Sue O’Connor dari Fakultas Kebudayaan, Sejarah, dan Bahasa ANU College Asia dan Pasifik menemukan lima mata pancing di makam seorang perempuan yang dihitung berasal dari era Pleistosen, 12.000 tahun lalu.
Penemuan itu, kata Profesor O’Connor, seperti dilansir anu.edu.au, telah mengubah pandangannya atas teori bahwa kebanyakan aktivitas memancing ikan di pulau itu dilakukan oleh pria.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penemuan ini, kata Profesor O’Connor lagi, menunjukkan bahwa baik dalam kehidupan dan kematian, penduduk era Pleistosen di Pulau Alor, memiliki kaitan dengan lautan dan hubungan antara mata pancing dan penguburan menandakan status kosmologis memancing di lingkungan pulau itu.
Pada konteks maritim atau kelautan, pemakaman tertua bersama mata pancing berasal dari Oman. Di situ ditemukan mata pancing berputar, yang terbuat dari cangkang kerang mutiara yang berasal dari era 6.000 tahun lalu.
Mata pancing tertua lain berasal dari Jepang, Eropa, dan Timor Timur, berasal dari masa sampai 22.000 tahun lalu. Namun mata pancing itu tak berkaitan dengan situs pemakaman.
Pada temuan di Pulau Alor, ada dua macam mata pancing yang dikuburkan. Satu berbentuk “J” dan empat mata pancing berputar berbentuk bundar, yang terbuat dari cangkang siput laut.
Temuan mata pancing berputar dari era yang lebih tua di pulau yang terpisah, mengindikasikan bahwa masyarakat nelayan mengembangkan teknologi yang sama secara terpisah, tidak mempelajarinya dari komunitas lain melalui kontak.
“Mata pancing Alor memiliki kemiripan yang luar biasa dengan mata pancing berputar yang digunakan di Jepang, Australia, Arabia, California, Cile, Meksiko, dan Oceania, " katanya.
Penelitian dan penemuan Profesor O’Connor dipublikasikan di Cambridge University Press journal Antiquity. Riset itu sendiri dibiayai dari Kathleen Fitzpatrick Australian Laureate Fellowship yang dikeluarkan Australian Research Council.
(ded/ded)