7 Kultum Ramadhan Singkat yang Menyentuh Hati dan Penuh Hikmah
Ramadhan merupakan bulan yang selalu dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan inilah umat Islam memperoleh peluang yang sangat berharga untuk meningkatkan kualitas ibadah, melakukan introspeksi diri, serta mempererat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Tidak hanya menjalankan ibadah wajib seperti puasa dan sholat lima waktu, salah satu kegiatan yang kerap mewarnai suasana Ramadhan adalah penyampaian tausiyah atau kultum Ramadhan singkat.
Lihat Juga : |
Kultum di bulan Ramadhan biasanya disampaikan sebelum atau sesudah sholat tarawih. Dengan adanya kultum di bulan Ramadhan, umat Islam diingatkan kembali tentang pentingnya menjaga keimanan, memperbaiki akhlak, serta memaksimalkan setiap detik di bulan suci agar tidak terlewat sia-sia.
Banyak masjid, majelis taklim, hingga lingkungan keluarga mengisinya dengan tausiyah atau kuliah tujuh menit. Karena itulah, kebutuhan akan kultum Ramadhan singkat yang padat, jelas, dan menyentuh hati semakin meningkat setiap tahunnya.
Secara umum, kultum adalah kependekan dari kuliah tujuh menit. Namun dalam praktiknya, durasi kultum Ramadhan singkat bisa lebih fleksibel, mulai dari 1 menit, 3 menit, hingga 5 menit.
Hal ini tidak menjadi persoalan, sebab yang terpenting bukanlah lamanya waktu penyampaian, melainkan nilai ilmu dan hikmah yang disampaikan. Dikutip dari NU Online, berikut contoh kultum yang dapat menjadi referensi ceramah singkat selama bulan suci Ramadhan.
Kultum Ramadhan 1: Dua tanda puasa Ramadhan diterima oleh Allah SWT
Assalamu'alaikum wr.wb.Bismillahirrahmanirrahim.Segala puji bagi Allah SWT yang masih mempertemukan kita dengan bulan penuh rahmat ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Jamaah yang dirahmati Allah, harapan terbesar kita saat menjalankan puasa Ramadhan adalah agar seluruh jerih payah dan kesungguhan ibadah diterima oleh Allah SWT. Hal ini wajar, karena puasa merupakan ibadah yang menuntut kesabaran, pengendalian hawa nafsu, serta keikhlasan yang mendalam.
Puasa, jamaah sekalian, bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga semata. Kita juga diperintahkan menahan diri dari perkara-perkara yang sebenarnya halal, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Lebih dari itu, kualitas puasa sangat ditentukan oleh kejujuran niat, ketulusan hati, serta kemampuan menjaga diri dari perbuatan dosa. Oleh sebab itu, diterima atau tidaknya puasa di sisi Allah menjadi perkara yang sangat penting untuk kita renungkan.
Puasa memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah lainnya, karena penilaian dan pahalanya sepenuhnya berada dalam kehendak Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang mampu memastikan puasanya diterima, kecuali Allah semata.
Sebaliknya, jamaah yang dimuliakan Allah, kondisi ketika puasa tidak diterima merupakan hal yang patut kita takutkan. Bayangkan jika sejak adzan Subuh hingga adzan Maghrib seluruh usaha kita justru berakhir sia-sia.
Bahkan bisa jadi puasa yang kita jalani tidak bernilai apa-apa di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita melalui sabdanya berikut ini:كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya, "Begitu banyak seseorang yang sedang berpuasa hanya menyisakan lapar dan haus," (HR. Imam Ibnu Majah).
Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang bisa saja berpuasa, namun tidak mendapatkan pahala selain rasa lapar dan dahaga. Sejak awal Ramadhan, kita semestinya menyadari kemungkinan ini agar lebih menjaga kualitas ibadah.
Bisa jadi, peringatan Rasulullah SAW tersebut tertuju kepada diri kita apabila kita lalai dalam menjaga adab dan ruh puasa. Namun demikian, para ulama telah menjelaskan adanya tanda-tanda yang dapat menjadi indikasi diterimanya puasa seseorang.
Walaupun keputusan akhir tetap menjadi hak Allah SWT sepenuhnya, tanda-tanda ini dapat kita jadikan bahan muhasabah diri. Dengan muhasabah tersebut, kita diharapkan mampu memperbaiki kualitas ibadah di masa mendatang.
Jamaah sekalian, salah satu tanda diterimanya puasa Ramadhan adalah terbiasanya seseorang melanjutkan puasa di bulan Syawal. Puasa enam hari di bulan Syawal, mulai hari kedua hingga ketujuh, memiliki keutamaan besar yang disamakan dengan pahala puasa setahun penuh.
Selain meraih keutamaan tersebut, konsistensi melaksanakan puasa Syawal menjadi isyarat bahwa Ramadhan benar-benar memberi pengaruh positif dalam diri kita. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah Ramadhan tidak berhenti, tetapi berlanjut setelahnya.
Tanda berikutnya adalah munculnya komitmen kuat dalam hati untuk tidak kembali melakukan maksiat. Inilah hakikat taubat yang sejati dan tujuan utama dari ibadah Ramadhan.
Seharusnya, seluruh ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan berjalan seiring dengan tekad menjauhi dosa. Namun apabila hati masih condong untuk kembali bermaksiat, maka kondisi tersebut patut kita waspadai.
Walaupun secara lahiriah seseorang terlihat rajin beribadah, tetapi jika hatinya masih terikat pada dosa, maka ibadah itu terancam tidak diterima. Hal ini juga berlaku dalam ibadah puasa Ramadhan.
Seorang Muslim perlu memiliki keteguhan untuk menjauhi maksiat, tidak hanya saat Ramadhan tetapi juga setelahnya. Jika lisan beristighfar namun hati masih menyimpan keinginan bermaksiat, maka peluang diterimanya puasa menjadi sangat kecil.
Dua tanda ini dapat kita jadikan sebagai tolok ukur dan bahan evaluasi diri atas puasa Ramadhan yang kita jalani. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada dalam ketetapan Allah SWT semata.
Setidaknya, dengan memahami tanda-tanda tersebut, kita memiliki gambaran tentang kualitas ibadah yang telah kita laksanakan. Semoga puasa kita tahun ini dan di tahun-tahun berikutnya benar-benar diterima oleh Allah SWT dan membawa perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa.
Akhir kata, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar diberi keikhlasan, keteguhan, dan istiqomah dalam ketaatan. Aamiin ya Rabbal 'Alamin, wallahu a'lam,Wassalamu'alaikum wr.wb.
Kultum Ramadhan 2: Orang yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah SWT
Assalamu'alaikum wr.wb. Bismillahirrahmanirrahim.
Jamaah yang dirahmati Allah, setiap manusia tentu menginginkan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi, sehingga tidak sedikit usaha dilakukan untuk meraihnya dengan berbagai cara. Namun yang perlu kita renungkan bersama adalah, amalan apa yang benar-benar mampu mengangkat derajat kita di hadapan Allah Swt.
Untuk menjawab hal tersebut, Rasulullah Saw telah memberikan petunjuk yang sangat jelas melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadits ini menjelaskan amalan-amalan sederhana namun memiliki dampak besar dalam menghapus dosa dan meninggikan derajat seorang hamba.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ. (رواه مسلم)
Artinya:"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah serta Ibnu Hujr semuanya dari Ismail bin Ja'far, Ibnu Ayyub berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail telah mengabarkan kepada kami Al Ala' dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: "Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai (seperti keadaan yang sangat dingin), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath." (HR. Muslim)
Jamaah sekalian, dalam hadits tersebut Rasulullah Saw menegaskan adanya amalan-amalan yang menjadi sebab diampuninya dosa dan ditinggikannya derajat seorang hamba. Salah satunya adalah menyempurnakan wudhu dalam kondisi yang terasa berat dan tidak nyaman.
Sering kali ketika udara pagi terasa dingin atau kondisi tubuh kurang nyaman, kita cenderung malas untuk berwudhu secara sempurna. Padahal, justru dalam kondisi seperti itulah nilai pahala semakin besar dan Allah Swt mengangkat derajat hamba-Nya.
Amalan berikutnya yang diajarkan Nabi adalah kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang tidak disukai oleh jiwa. Termasuk di dalamnya adalah tetap melaksanakan ibadah dan perbuatan baik meskipun terasa berat dan melelahkan.
Rasulullah Saw juga memberi isyarat bahwa jalan menuju surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disenangi oleh hawa nafsu. Namun, siapa saja yang mampu bersabar dan tetap taat, maka Allah Swt akan menghapus dosa-dosanya serta meninggikan kedudukannya.
Selanjutnya, memperbanyak langkah menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah juga termasuk amalan yang sangat mulia. Setiap langkah kaki yang dilalui menuju rumah Allah akan diganjar dengan penghapusan dosa dan peninggian derajat.
Selain itu, menunggu waktu shalat setelah shalat sebelumnya merupakan tanda cinta dan kerinduan seorang hamba kepada ibadah. Inilah yang oleh Rasulullah Saw disebut sebagai ribath, yaitu keteguhan hati dalam ketaatan kepada Allah Swt.
Jamaah yang dimuliakan Allah, empat amalan inilah yang menjadi sebab utama dihapuskannya kesalahan dan ditinggikannya derajat seorang hamba. Amalan-amalan tersebut tampak ringan, namun membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, dan kesabaran.
Semoga Allah Swt senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua agar dimudahkan dalam mengamalkannya. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba yang Allah angkat derajatnya di dunia dan akhirat.
Wallahu a'lam.Wassalamu'alaikum wr.wb.
Kultum Ramadhan 3: Spirit Ramadhan bagi orang yang beriman
Assalamu'alaikum wr.wb. Bismillahirrahmanirrahim.
Jamaah yang dirahmati Allah, bulan Ramadhan adalah waktu penuh kasih sayang dan ampunan dari Allah Swt bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memohon ampun. Ramadhan pun akan terasa ringan dan indah apabila iman yang tertanam di dalam hati benar-benar kuat dan kokoh.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣.
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa puasa bukan sekedar rutinitas ibadah, tetapi memiliki tujuan besar, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa. Dari ayat tersebut pula muncul pertanyaan penting, siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan orang-orang beriman itu.
Jamaah sekalian, Rasulullah Saw telah menjelaskan makna iman dengan sangat jelas melalui sabdanya. Penjelasan ini menjadi landasan utama agar kita memahami siapa yang mampu menjalani puasa dengan penuh keikhlasan.
,ِ وَمَلاَئِكَتِھِ , وَكُتُبِھِ , وَرُسُلِھِ , وَالْیوَْمِ الآخِرِ , وَ تؤُْمِنَ باِلقْدَرِْ خَیرِْه وَ شَرِّه قاَلَ : أَنْ تؤُْمنِ باِ.
Artinya: Rasulullah menjawab, "Iman itu artinya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk." (HR. Muslim).
Dengan pemahaman iman seperti inilah, seorang hamba mampu melaksanakan perintah Allah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Iman yang benar akan melahirkan ketaatan, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa.
Selain memahami makna iman, jamaah yang dimuliakan Allah, kita juga perlu mengenali ciri-ciri orang beriman. Syekh Nawawi menjelaskan bahwa ciri-ciri tersebut termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 1-5.
1. Ciri pertama orang beriman adalah keyakinan yang kuat terhadap Al-Qur'an sebagai Kalamullah dan petunjuk bagi orang bertakwa. Keyakinan ini mendorongnya untuk mencintai, membaca, serta mempelajari Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh.
2. Ciri kedua adalah keimanan terhadap perkara-perkara gaib seperti surga, neraka, shirath, yaumul mizan, dan kehidupan akhirat lainnya. Keimanan ini menjadikan mereka taat kepada perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
3. Ciri ketiga, iman mereka tertanam kuat di dalam hati dan tidak berhenti pada pengakuan lisan semata. Dari iman yang tulus inilah lahir keikhlasan dalam seluruh ibadah yang dikerjakan.
4. Ciri keempat adalah kesungguhan dalam mendirikan shalat lima waktu sesuai syarat, rukun, dan sunnahnya. Shalat menjadi bukti nyata hubungan yang kokoh antara seorang hamba dengan Allah Swt.
5. Ciri kelima, orang beriman tidak kikir terhadap rezeki yang Allah titipkan kepadanya. Mereka rela menafkahkan sebagian harta kepada orang-orang yang membutuhkan.
6. Ciri keenam adalah keyakinan terhadap kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum Al-Qur'an seperti Taurat, Zabur, Injil, dan suhuf-suhuf. Keyakinan ini menguatkan pemahaman bahwa puasa juga diwajibkan kepada umat-umat terdahulu.
7. Ciri ketujuh, mereka meyakini sepenuhnya adanya kehidupan akhirat beserta seluruh peristiwanya. Keyakinan ini mencakup kebangkitan, yaumul hisab, serta balasan berupa nikmat dan siksa.
8. Ciri kedelapan, mereka membuka hati untuk menerima hidayah dan petunjuk dari Allah Swt. Orang-orang inilah yang termasuk golongan beruntung dan selamat dari murka serta azab Allah.
Jamaah sekalian, Imam Al-Ghazali Hujjatul Islam menjelaskan bahwa puasa yang sempurna adalah puasa yang dilandasi iman dan kecintaan kepada Allah Swt serta Rasulullah Saw.
Dari puasa seperti inilah lahir semangat ibadah, peningkatan amal, memperbanyak shalat sunnah, tadarus Al-Qur'an, membantu sesama, dan penyucian jiwa.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum penghapus dosa dan sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga Ramadhan menjadikan kita hamba-hamba yang dicintai, dirahmati, dan dimuliakan oleh-Nya.
Akhir kata, semoga Allah Swt menerima seluruh amal ibadah kita dan mengokohkan iman di dalam hati kita. Wassalamu'alaikum wr.wb.
Klik halaman selanjutnya untuk melanjutkan membaca contoh teks kultum Ramadhan...