Tak Sekadar Tradisi, Sarung dan Peci Jadi Simbol Perlawanan Santri
Keberadaan pesantren di Indonesia sudah berabad-abad lamanya, bahkan sejak zaman pra-kemerdekaan.
Berdasarkan Babad Demak, pondok pesantren diketahui muncul pertama kali pada masa Raden Rahmat atau Sunan Ampel di abad ke-14, seperti dikutip dari laman Daarut Tarmizi.
Namun ada pula sumber lain yang menyebut pesantren muncul sekitar tahun 1062 di Pamekasan, Madura.
Terlepas dari itu, sudah mengakarnya pesantren di tanah Indonesia membuat tradisi dan budaya santri pun melekat dalam keseharian kita. Salah satunya penggunaan sarung dan peci yang jadi ciri khas para santri.
Namun, di antara semua jenis pakaian yang ada, mengapa harus sarung dan peci? Jika merunut kembali ke belakang, ternyata kedua benda ini menjadi simbol perlawanan santri terhadap para penjajah. Simak ulasan singkat sejarahnya berikut ini.
Sarung dan peci sebagai simbol perlawanan
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, penggunaan jas, celana, dan sepatu makin digalakkan. Dosen Pascasarjana IAI Al- Khoziny Buduran Sidoarjo, Heru Siswanto, dalam laman NU Online menulis, upaya ini merupakan usaha kolonial untuk memperluas pengaruh sekaligus membuat kekuasaan penjajah lebih mudah diterima masyarakat.
Namun, para kiai dan pejuang menyadari, pakaian juga dapat menjadi simbol dominasi budaya. Sebagai tanggapan, mereka mendorong santri dan masyarakat memakai sarung serta peci dalam kehidupan sehari-hari.
Busana tersebut kemudian menjadi penanda jati diri dan semangat untuk menolak pengaruh asing.
Sikap itu tampak dalam Muktamar NU ke-2 pada 1927, yang dihadiri ulama dan pimpinan pesantren. Dalam forum tersebut, diputuskan berpakaian menyerupai penjajah hukumnya haram.
Keputusan itu kerap dipahami sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap kolonialisme, sekaligus penegasan pilihan berpakaian berkaitan dengan martabat dan identitas bangsa.
Contoh lain terlihat pada KH Abdul Wahab Hasbullah ketika memenuhi undangan Presiden Soekarno ke istana yang mensyaratkan jas dan dasi. Kiai Wahab mengenakan jas sebagai atasan, tetapi tetap memakai sarung.
Pilihan tersebut menunjukkan penghormatan pada acara tanpa melepaskan simbol budaya yang diyakininya. Sarung bukan sekadar pakaian, melainkan warisan tradisi dan pengingat perjuangan para santri melawan penjajahan.
Asal-usul sarung dan peci
Seperti yang disebutkan sebelumnya, sarung dan peci sudah mengakar dalam tradisi pesantren. Firdausi et al. dalam studinya yang dipublikasi di Alhamra Jurnal Studi Islam (Agustus 2023) pun mengungkap asal usul sarung dan peci.
Sarung dan peci menjadi bagian penting dari keseharian santri. Di lingkungan pesantren, sarung dan peci tidak hanya dikenakan ketika salat atau mengikuti pengajian kitab kuning.
Santri memakainya dalam berbagai kegiatan, mulai dari belajar di madrasah hingga beraktivitas di dapur dan lapangan. Kebiasaan tersebut turut memengaruhi masyarakat luas.
Kini, sarung dan peci lazim terlihat dalam beragam kesempatan, termasuk acara keagamaan, pernikahan, kegiatan sosial, bahkan acara pemerintahan.
Sarung sendiri memiliki tempat khusus dalam tradisi Islam Nusantara dan digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Asal-usul serta persebarannya memiliki beragam penjelasan, dengan pengaruh dari kawasan Teluk Persia, Samudra Hindia, dan Turki.
Di Indonesia, sarung kemudian menjadi pakaian yang lekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi kalangan pesantren, busana ini kerap dimaknai sebagai lambang kesederhanaan, pengendalian diri, dan warisan budaya para ulama.
Tradisi mengenakannya juga menjadi bagian dari tanggung jawab santri untuk merawat identitas pesantren. Dalam sejumlah tafsir, sarung bahkan dipandang sebagai penanda sikap bersahaja dan penegasan jati diri di tengah pengaruh mode dari luar.
Adapun peci yang umumnya berbentuk penutup kepala hitam, juga memiliki sejarah panjang. Sejumlah pendapat mengaitkan perkembangannya dengan hubungan perdagangan dan pertukaran budaya di kawasan Asia.
Ada pula kisah yang mengungkap peci diperkenalkan oleh Laksamana Cheng Ho, seorang kasim muslim yang menjadi Kaisar Yongle dari Tiongkok. Terlepas dari perbedaan riwayat tersebut, peci kemudian diterima luas di masyarakat Melayu, termasuk Indonesia.
Di pesantren, peci dipakai sebagai bagian dari kepantasan dan penghormatan dalam menuntut ilmu. Tradisi ini dikaitkan dengan ajaran untuk menutup kepala, sedangkan sorban kerap diasosiasikan dengan kearifan, pengetahuan agama, dan kesalehan.
Seiring waktu, peci menjadi bagian dari identitas santri sekaligus masyarakat. Banyak orang tetap mengenakannya setelah beribadah atau saat menghadiri kegiatan di lingkungan sekitar.
Dengan demikian, sarung dan peci bukan sekadar pakaian, melainkan simbol tradisi, kesederhanaan, dan keterikatan sosial yang terus hidup dalam keseharian.
(rti)