"Rata-rata kenaikan harga properti per tahun itu 10-15 persen. Mungkin bisa lebih tinggi sedikit dengan naiknya BBM dan UMK (upah minimum kabupaten/kota), tidak lewat dari 5 persen," ujar Eddy Hussy, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestate Indonesia (REI), di sela Rakernas REI, Kamis (20/11).
Kendati demikian, Eddy menilai belum mengindikasikan terjadinya penggelembungan aset (bubble) properti seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Sebab, harga properti di Tanah Air relatif masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hambatan Suku Bunga
"Kami khawatir kalau bunga naik terus akan menghambat industri properti karena masyarakat akan semakin berat membeli properti," jelasnya.
Seperti diketahui, tak selang berapa lama setelah harga BBM bersubsidi naik Rp 2.000 per liter, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Selasa sore (18/11) memutuskan menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,75 persen.
"Sekarang bunga KPR itu sudah di atas 10 persen, sekitar 12-14 persen. Saya tidak tahu akan naik jadi berapa dengan naiknya BI rate," katanya.
Menurut Eddy, kendati ada risiko perlambatan, REI belum akan merevisi turun target 10 persen pertumbuhan industri properti tahun depan. Sebab, dia masih menaruh harap pemerintah dan otoritas perbankan akan membuat kebijakan kredit dan iklim ekonomi yang lebih bersahabat bagi pelaku properti.
"Kalau mau atasibacklog, mau tidak mau harus ada suatu keleluasaan bagi masyarakat untuk menggunakan uang perbankan. Kami harap BI atau OJK bisa melunak soal kredit rumah," katanya.