"Salah satunya itu. Soalnya penentuan harga ICP (Indonesian Crude Price) juga dipengaruhi harga minyak dunia dan investasi tentunya," tutur Wakil Kepala SKK Migas Johannes Widjanarko kepada CNN Indonesia, Minggu (14/12).
Dari investasi sebesar US$ 22,2 miliar, sebanyak US$ 14,8 miliar atau sekitar 66,4 persen akan digunakan untuk kegiatan pengeboran 952 sumur work over dan pemeliharaan 38.914 sumur. Adapun biaya pengembangan 783 sumur, diprediksi menelan dana US$ 4,7 miliar atau sekitar 21,2 persen. Sedangkan sisanya atau sekitar US$ 2,7 miliar akan digunakan untuk menutupi biaya-biaya lainnya seperti administrasi dan biaya umum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain besaran investasi, SKK Migas juga telah menyetujui usulan KKKS mengenai besaran produksi minyak tahun depan. Dalam WP&B 2015, produksi minyak Indonesia diprediksi hanya mencapai 849.750 barel per hari (bph) atau lebih rendah dari target lifiting dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang menargetkan produksi minyak di angka 900.000 bph. "Kami akan terus mendorong agar KKKS tetap bisa menjaga produksinya tahun depan. Dan kami optimistis dengan angka itu," tegasnya.
"Ya walaupun perusahaan akan menahan investasi dan produksi, tapi KKKS khan jadi bisa melakukan eksplorasi sebanyak-banyaknya lantaran harga sewa rig jadi lebih murah. Poin ini yang menjadi hikmah di tengah anjloknya harga minyak," cetus Aussie.