"Kita akan gunakan dana-dana pinjaman dari Jepang, Bank Dunia, ADB, dan lain-lain. Sehingga kita tidak banyak pergi ke pasar," kata Sofyan di kantornya, Senin malam (15/12).
Sofyan berharap pencairan pinjaman siaga (standby loan) bisa mendukungan pendanaan proyek-proyek yang membutuhkan modal dalam bentuk dollar AS, seperti yang dikelola oleh PT PLN (Persero).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu cuma untuk jaga-jaga kalau memang defisit lewat," jelas Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro kepada CNN Indonesia.
Sebagai informasi, sampai saat ini pemerintah telah mengantongi komitmen pinjaman siaga (standby loan) sebesar US$ 5 miliar atau setara dengan Rp 63,26 triliun (asumsi kurs Rp 12.643 per dolar AS). Komitmen tersebut diberikan oleh Bank Dunia sebesar US$ 2 miliar, Pemerintah Australia US$ 1 miliar, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) US$ 1,5 miliar, dan ADB US$ 500 juta.
Komitmen pinjaman siaga dari Bank Dunia dalam kerangka Program For Economic Resilience, Investment and Social Assisstance in Indonesia (PERISAI). Sedangkan yang dijanjikan ADB berupa Precautionary Financing Facility atau Countercyclical Support Facility.