"Pemerintah akan menggunakan lebih banyak dana ODI (Overseas Development Institute) yang tidak lewat mekanisme pasar. Pinjaman lewat ADB, World Bank, Jepang dan dari pemerintah mana saja, sehingga bunga utang infrastruktur pemerintah akan lebih terkontrol," ujar Sofyan di kantornya, Selasa (16/12).
ODI adalah salah satu lembaga Think Tanks untuk pembangunan internasional yang berbasis di Inggris. Sejak tahun 1960 ODI telah bekerja dalam berbagai isu-isu kebijakan pembangunan di negara-negara berkembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Intinya pemerintah akan melakukan segala upaya untuk menjaga stabilitas rupiah," katanya.
Sofyan Djalil menilai pelemahan kurs merupakan tren global yang tidak hanya menekan rupiah, tetapi juga mata uang banyak negara. Fenomena ini terjadi investor mengantisipasi rencana Bank Sentral AS (The Fed) mempercepat kenaikan suku bunga sehingga terjadi pembalikan dolar AS ke negara asalnya.
"Sampai pagi ini depresiasi rupiah 4 persen . Kita bukanlah yang terburuk," ujar Sofyan.
Intinya, Sofyan Djalil menegaskan pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal mengingat kondisi ekonomi dan politik di dalam negeri cukup kondusif dan stabil. Dia mengklaim publik dan dunia internasional mengapresiasi kebijakan pemerintahan Joko Widodo dan Kabinet Kerja di berbagai sektor, terutama dalam memperbaiki iklim investasi.
"Kabinet Kerja baru dua bulan, tapi anda lihat dampaknya. Pemerintah begitu komitmen," ujarnya.