“Harusnya ketika kita mengalami pelemahan rupiah, inilah saatnya manufaktur kita untuk dihidupkan kembali, paling tidak didorong,” ujar Bambang, dikutip dari situs resmi Kementerian Keuangan, Rabu (17/12).
Bambang menilai korelasi antara pertumbuhan industri manufaktur dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sangat kuat. Oleh karena itu, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk membangkitkan kembali industri manufaktur Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlebih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan penurunan harga minyak dipercaya akan berimbas pada kinerja ekspor Indonesia, yang saat ini masih didominasi oleh ekspor komoditas.
Namun permintaan Menteri Bambang tersebut tidak bisa direalisasikan industri manufaktur tanpa bantuan pemerintah. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) meminta insentif keringanan pajak ekspor dari pemerintah guna mendongkrak kinerja ekspor produk yang dihasilkannya. Tanpa dukungan fiskal tersebut, AISI pesimistis ekspor motor bisa meningkat 50 persen pada 2015 seperti yang diharapkan pemerintah.
“Insentif contohnya menelaah pajak ekspor. Harus ditelaah satu persatu untuk tipe apa. Itu saja cukup kok. Kalau tidak, terkait komponen dan bahan baku yang masih impor. Banyak yang dari luar negeri dan dirakit di dalam negeri,” ujar Ketua Bidang Komersil AISI Sigit Kumala di Karawang, beberapa waktu lalu.
“Terutama adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada 2015, harus kita lihat lagi dong, disiapkan dengan matang,” ujarnya.