Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan pemerintah siap mengurangi penerbitan surat berharga negara (SBN) untuk mengantisipasi apabila rupiah melemah terhadap dolar yang mengakibatkan pemerintah harus membayar bunga SBN lebih tinggi.
"Akan kita lakukan pinjaman multilateral dan bilateral dan mengurangi surat berharga terutama," kata Bambang di Jakarta, Kamis (18/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pokoknya dari semua sumber yang memungkinkan dan siap saja," pungkas Bambang.
Sayangnya menurut Mirza, upaya itu justru meningkatkan risiko rapuhnya penyangga pasar keuangan Indonesia. Karena itu perlu ada reposisi utang dari pasar finansial ke utang multilateral seperti yang pernah dijalankan sebelum era 1998 silam.
Mirza mengatakan sejak mencari pendanaan di pasar finansial, arus pemodal asing yang memegang surat utang Indonesia mencapai 39 persen. Padahal pasar yang terlalu bergantung pada dana asing lebih mudah goyah.
"Karena itu perlu diversifikasi pinjaman. Porsi non-financial market-nya diperbesar seperti pinjaman multilateral," ungkapnya di Gedung BI kemarin.
Namun, pinjaman multilateral disarankan haruslah tidak mengikat. "Multilateral tidak apa-apa asalkan untight loan (pinjaman tidak mengikat)," ujarnya.